Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Sunday, November 14, 2010

Terbang, Lari, Berenang

Aku ingin terbang.
Seandainya aku bisa minta pada Tuhan, aku ingin punya sayap.
Seperti burung yang bebas bisa terbang kemana saja.
Aku ingin merasakan diriku menjadi seringan bulu.
Melesat cepat di udara, merasakan angin menampar-nampar pipiku.
Pergi ke sebuah tempat yang sama sekali berbeda, yang sangat asing dari tempatku biasa bernaung.

Aku ingin lari.
Seandainya aku punya kaki yang terbuat dari besi.
Sehingga aku bisa berlari tanpa rasa lelah yang dapat menghentikanku.
Lari menuju tempat yang baru, orang-orang baru, suasana baru.
Lari sampai aku kehabisan tenaga dan hanya bisa menghela nafas berat.

Aku ingin berenang.
Seandainya aku bisa seperti ikan yang hidup di air.
Berenang menuju sebuah samudera yang luas dan asing.
Dan menghabiskan hidupku bersama ikan-ikan disana.




Karena aku tidak yakin apakah disini tempatku harus bernaung.

Forever yours, Judy Wilhelmina

Tuesday, October 19, 2010

Romantis Adalah (Part 2)

Ya, romantis adalah kamu.

Romantis adalah kamu memainkan gitar dan mengajakku bernyanyi.

Romantis adalah kamu berbicara padaku dan menatap dalam-dalam mataku.

Romantis adalah setelah bertahun-tahun tidak pernah online dan tiba-tiba muncul keinginan di dalam dirimu untuk online Skype dan menemukanku di sana.

Romantis adalah ketika kamu mengatakan bahwa kita akan bertemu di Roma, jika kita berkuliah di Eropa.

Romantis adalah ingatan kamu yang masih kuat dan tidak melupakan video call-video call kita yang lucu beberapa tahun lalu.

Romantis adalah perang dingin yang terjadi di antara kita berdua beberapa tahun yang lalu.

Romantis adalah aku menerima telepon darimu yang memohon untuk meminta maaf kepadaku dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Romantis adalah kamu yang bangga dengan semua keinginan dan tekadku untuk mengikuti summer course tahun depan di Eropa.

Romantis adalah foto Skype-ku yang kamu puji.

Romantis adalah aku yang baru saja sadar bahwa ada sebuah foto aku dan kamu sedang bergandengan tangan dan tersenyum saat TK sebelum menari berdua di atas panggung, menempel di atas tempat tidurku sedari tahun lalu.

Romantis adalah kamu yang selalu cerita padaku bahwa kamu selalu malas dan tidak pernah mengerjakan PR sekolah, tapi mendapatkan beasiswa ke luar negeri secara diam-diam.

Romantis adalah aku yang mulai bingung jika kamu mengambil beasiswa tersebut dan akan meninggalkan negara ini bulan depan untuk mengejar cita-citamu.

Romantis adalah kita yang selalu bercengkrama dalam bahasa Inggris.

Romantis adalah kamu yang membuat panggilan khusus dan unik untukku.

Romantis adalah kamu yang selalu ingin menemukanku di Skype secara tidak sengaja.

Romantis adalah aku yang harus menemukanmu di Skype katamu, bukan orang lain.

Romantis adalah kemalasan tingkat tinggi kamu untuk menyantap makan malam, sehingga langsung meninggalkanku tidur.

Romantis adalah kamu yang tidak pernah ingin menggangguku saat aku sibuk dan kenyataannya aku senang diganggu olehmu.

Romantis adalah keinginan kamu untuk online Skype hanya demi mencariku dan mengobrol.

Romantis adalah kamu yang mengatakan bahwa kamu ingin mengobrol lagi denganku keesokan harinya.

Romantis adalah momen-momen kita yang tidak penting, namun berharga.



-Irma Fadhila

Saturday, October 16, 2010

Romantis Adalah

Romantis adalah saat kita berjabat tangan dan mengucapkan nama masing-masing dengan senyum di bibir.

Romantis adalah menanyakan tugas sekolah yang berujung dengan menanyakan kabar lewat SMS yang semakin lama jadi semakin intens.

Romantis adalah saat aku tidak yakin harus menyukaimu atau tidak.

Romantis adalah saat aku memberikan naskah novelku kepadamu, dan kamu menghabiskannya dalam waktu semalam, bahkan menghafal dialog tokoh-tokohnya dan halaman-halamannya.

Romantis adalah saat kamu bercerita tentang masa lalumu yang kelam dan saat aku menepuk-nepuk bahumu, meyakinkan bahwa kamu tidak sendirian.

Romantis adalah saat kita menciptakan sandi rahasia untuk mengobrol tanpa diketahui artinya oleh teman-teman kita yang rata-rata pada sok ingin tahu.

Romantis adalah saat aku mengibaratkan sebuah lagu dengan dirimu.

Romantis adalah saat kamu mau menukar 3 DVD-mu dengan 3 artikelku untuk tugas Bahasa Indonesia.

Romantis adalah saat teman-teman yang lain terus mencibir tentang kita, lalu kita hanya menjawab "Apaan sih lo?" karena sejujurnya kita tidak tahu apa yang kita berdua rasakan.

Romantis adalah saat teman-teman kita sengaja mengerjai kita agar bisa duduk berdua di bus sekolah.

Romantis adalah saat kamu tiba-tiba mengucapkan tiga kata keramat itu di sebuah surat dengan sandi yang kita berdua ciptakan.

Romantis adalah ucapan selamat dari orang-orang yang kita balas dengan "Terima kasih" atau cukup dengan senyum malu.

Romantis adalah saat kita pertama berbeda pendapat, dan saat aku pertama kali menangis di telepon.

Romantis adalah kencan-kencan biasa yang hanya berupa nonton film lalu makan siang, namun terasa lebih dari itu.

Romantis adalah saat kita bernyanyi bersama-sama melantunkan lagu kesukaan kita berdua.

Romantis adalah sebuah kecupan pertama yang diakhiri dengan kata-kata "Aku tidak akan mengecewakan kamu."

Romantis adalah cercaan-cercaan, ribuan tertawaan, ratusan butir air mata yang kita berdua keluarkan.

Romantis adalah perpisahan yang membutuhkan waktu sangat berat untuk dilupakan.

Romantis adalah setiap kali aku menulis sebuah lagu, semuanya selalu mengenai kamu.

Romantis adalah mengapa aku selalu tersenyum ketika melihat sesuatu yang berkenaan dengan kamu, sampai sekarang.

Romantis adalah saat aku menulis coret-coretan ini sambil mematri wajahmu di bawah alam sadarku.

Romantis adalah kamu.



Forever yours, Judy Wilhelmina

Tuesday, August 24, 2010

Aku. Ingin. Ke. Pantai


aku ingin ke pantai
merasakan awanawan yang bergeser lambat
menghirupi baubauan alam murni
menatap langit biru cerah

serta

aku ingin ke pantai
memperhatikan pohonpohon nyiur melambai
memperlihatkan siluet tubuh
sok dengan bikini atau one piece
menjadi bukan aku si Timur

serta

aku ingin ke pantai
merasakan ombakombak berhembus dikakiku
melepaskan penatpenat di kaki panjangku
membiarkan pasir membenam tubuhku

serta serta serta serta

aku ingin ke pantai
semuanya akan tambah indah,
kalau kamu mau menemaniku.
serta serta serta serta

temani aku ke pantai.
maukah kamu?

Monday, August 9, 2010

Kereta




Malam ini di tengah keramaian gerbong kereta
Semua kebusukanmu telah terungkap

Kamu tidak ingin memilikiku
Hanya ingin memenuhi kepuasan egomu

5 hari berlalu
Kamu telah berusaha untuk memilikinya
Dan di tengah sorak ramai yang meramaikan gerbong
Kamu terbukti berhasil mendapatkannya

Deru mesin kereta mengiringi segala ungkapanmu

Ungkapanmu yang membahagiakan dirinya
Ungkapanmu yang menyakiti diriku

Gumpalan air ini turun perlahan-lahan
Karena aku merasa tersakiti

Tersakiti karena hati telah dimainkan
Tersakiti karena hati telah dilukai

Aku yakin bahwa Tuhan ada
Dan Tuhan telah menjawab pertanyaanku


May 28, 2010
-Irma Fadhila-

Pilihan

Photo by : Irma Fadhila


Di saat berjuta-juta pilihan datang menghampiri
Tiada satupun yang dapat kupilih
Di saat aku harus menentukan pilihan
Tiada satupun yang datang menghampiri


May 6, 2010
-Irma Fadhila-

Wednesday, July 21, 2010

Catatan Kopi

Hentakan jantung ini makin keras

Tambah keras

Tak tahu apa yang mengalir; darah atau amarah

Seperti sesuatu yang tidak pernah mengalir,

Namun pernah terlewati nafasku


Semua gundamgundam mainan berbicara

Para wanitawanita jadi kayu kokoh;

Kuat diluar.

Rapuh didalam.


Sekali lagi.


Hentakan jantung ini makin keras

Tambah keras

Tak tahu apa yang mengalir; darah atau amarah

Seperti sesuatu yang tidak pernah mengalir

Namun pernah terlewati nafasku


(more poem from me click here)




Sunday, July 11, 2010

Hujan





Itu hujan,
yang berderap-derap menghujam tanah,
yang suaranya begitu damai; membuaimu dalam tidur yang lelap.
Itu hujan,
yang membuat kopimu terasa nikmat tiada dua,
yang melembutkan hati dan menajamkan pikiranmu.
Itu hujan,
yang menelusup masuk ke perasaanmu,
yang membuatmu merenung, terpekur mengeja hidup.
Itu hujan,
yang melipatgandakan rasa rindumu,
yang membuatmu tak sabar untuk menantinya pulang.



Tuesday, June 22, 2010

Philosophy of Writers

And we bleed from the tip of our pens, dragging the black blood across the paper, pouring out words, making out sentences. Our words beat out emotion, we know how much it hurts, we know how bad a memory can be, but we bring it back to life anyway. We throw everything we have into the pen and make out magic, that's if we can. We know how pretty pain can be, we know the prettiest ink comes in red. We take moments and freeze them in time, no matter how much it'll hurt, we take the blow.

We are the pain the mother feels when her little whore doesn't come home. We are the misery of the little shit who sits and cries over a boyfriend. We are the idiots who know nothing of the world. We are the kings and queens with nothing to live for but money and fame. We are the singer who lost his touch. We are the hooker with no one in line.

We have no problem drowning our victims in the ink we write in. We have no problem making out roses, and putting them on the grave of the young woman we've always hated, oh, we have no problem. We're liars, we're cheaters, we're killers. We paint masks to get our way, to have peoples' memories poured on paper, to have people thinking they're crying over a myth. We may stain our hands in the blood of our victim, but who gives a damn now? We stalk the night, they have no clue. Our guns and pens are ready to be loaded with our pretty red ink.

We are the father who doesn't know what to do anymore. We are the bride who knows he isn't "the one". We are the teenagers whose hands are red and their classmate too. We are the girls in the bathroom who look in the mirror, afraid to grow old. We are the unsent love letter that sits on the kitchen table. We are the rebels who go against the machine.

Look at us, look at us now. Here we stand, as writers, as murderers, as poets, whatever, just look at us. We are everything, as well as nothing. We're everything you hate in a person, we're everything you want, wish, to be. We're the attention whores who cry over nothing, we're the teachers who stare you down, we're the boys who sit in the alley way. You wish were us, you wish you had ink running through your veins, you wish you had something to live for, you wish you could make a difference, even if it's on paper. You wish you could pick up a pen and write in our beautiful golden ink. Oh, you wish you could. You want our happy endings, you want our pity, you want our stupid thoughts.

Oh, you wish you could. You just wish.
And we continued to bleed, it never stops. Once we start, we can never go back. Our pens keep on moving, we never stop. Our words pour out, along with our blood, but we never bleed to death. Sometimes we wish we could, sometimes we want to, this will never happen, because death isn't a choice.

We're liars. We're killers. We're cheaters. We're writers.

We force our smiles, we fake our screams, come and see what we have planned for you. Get ready, we're coming, our masks painted on, our guns and pens loaded. We'll walk on sunshine, to get to you. We'll force this poison into our arms, to get to you. We'll twist the sane, to get to you. Be ready, we're coming.

And our guns are loaded. And our minds are set. And we're young and reckless; don't test us. It's seven past eight; here we go. Get ready, we're coming.

Like a bed of roses, there's a thousand reasons in this gun. Scream for mercy, give us pleasure, make us smile behind these painted faces. We'll make your skin crawl, we'll make you feel sick. We're not stopping, until we're dead.

By: Lola Kiribati