Friday, July 9, 2010

Melodi & Ritme


Melodi: Urutan nada dan jangka waktu nada, sementara, dalam arti lain, istilah tersebut memasukkan suksesi unsur musik lain seperti warna nada.


Ritme: Variasi horizontal dan aksen dari suatu suara yang teratur.



Gadis itu berjalan di depanku, melewati batang hidungku yang panjang. Tawanya menghangatkan tubuhku, senyumnya menyinari hariku, pipinya yang memerah karena sinar matahari membuat diriku tersenyum, gemas ingin merangkulnya. Rambutnya panjang dan berkilau, selalu terurai rapi, halus, dan indah. Segalanya terlalu manis untuk kulalui dan kurasakan.


Hari ini ia menyapaku, bukan untuk menanyakan kabar, ataupun kondisiku, melainkan mengajak diriku dan teman-teman untuk datang ke acara pesta ulang tahunnya. Sesaat, mata kiri ini memandang. Gadis itu tidak akan peduli jika diriku datang atau tidak. Aku bukanlah tamu yang ia tunggu-tunggu.


Ia Melodi. Namanya telah mewakilkan 90% gambaran hidupnya, sangat melodius. Hari-harinya berjalan seperti melodi, mengalun dengan manis dan indah. Sama seperti dirinya yang bertubuh mungil dengan rambut panjangnya yang selalu terurai indah. Melodi, nama itu terlalu indah. Seperti dirinya.


Mata kanan ini menatap. Dirinya bukanlah seorang juara kelas, namun, pancaran sinar dirinya telah bersinar tepat di tempat tersembunyi ini. Ia berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua ekskul saman, yang selalu membuatku terpesona. Ya, aku terpesona. Gerakan dari tariannya, selalu Melodi bawakan dengan ringan dan lincah, terlalu melodius.


Ingin sekali kupeluk Melodi dan katakan pada telinga mungilnya, 3 tahun sudah aku memendam rasa sayang dan ingin memiliki dirinya. Dibuat bisu aku olehnya. Aku tidak jelek, tidak juga kuper. Mengutarakan isi hati merupakan musuh terbesar bagi jiwa yang rapuh ini. Melodi tidak pantas untukku, kami berdua seperti antonim, bertolak belakang.


Melodi selalu anggun, indah, begitu menggoda di mata kananku. Tidak untuk mata kiriku. Mata kiri ini melihat Melodi dari sisi yang berbeda.


Melodi yang senang berfoya-foya, Melodi yang tidak pernah mengerjakan tugas, Melodi yang selalu licik saat ulangan, Melodi yang selalu ganti pasangan, Melodi yang sombong, dan Melodi yang licik. Semuanya nampak jelas di mata kiriku.


Namanya Melodi, unsur ritme atau ritmis terpaut jauh dari kehidupannya. Hidupnya tidak teratur. Berantakan, tidak beritme, tidak seimbang. Melodius dan ritmis telah menjadi takdir untuk selalu hadir di dalam jiwa seseorang dengan porsi yang seimbang.


Hidupku selalu teratur dan mengikuti ritme. Tidak melodius seperti kehidupan Melodi. Namun tentu saja, namaku bukan ‘Ritme’. Aku Adriel, lebih terkenal dengan panggilan Rel. Kehidupanku kurang berwarna, semenjak dahulu sampai sekarang, bentuk kehidupanku sama saja, terlalu mengikuti aturan yang ada. Terlalu mengikuti teori.


Dalam pikiran ini, orang tuaku yang sudah berpisah, akan selamanya berpisah dan tidak akan berhubungan kembali. Parahnya, aku pikir, mereka tidak akan bersenang-senang denganku. Logika yang selalu aku ikuti, bukan kata hati.


Seandainya telingaku dapat mendengar bisikan hati, pasti bulan depan aku akan berlibur bersama orang tuaku walaupun mereka sudah berpisah. Mungkin saja mereka bisa kembali berhubungan baik, karena kata hatiku.


Aku ingin memiliki kehidupan yang melodius, yang berwarna, yang mengalun dengan ringan, lincah, dan indah. Aku tidak ingin menjadi orang yang kaku, seperti sekarang. Terlalu banyak prinsip dan aturan dalam hidupku. Aku tidak bebas, dan sulit untuk bisa melepaskan diri ini dari jaring-jaring hitam untuk menjadi bebas. Sebanyak apapun gadis yang mengejarku saat ini, hanya karena keadaan fisikku yang selalu dipuja. Aku tidak menginginkannya. Aku butuh seseorang untuk dapat mengerti keadaan diriku yang sebenarnya.


Melodi menarik di mata kananku. Ia adalah satu-satunya gadis di sekolahku yang bertindak normal, tidak seperti gadis yang lain. Kadang ia tersenyum padaku, walau aku yakin, senyuman itu palsu dan tidak tulus, karena tidak ada sinar yang terpancarkan dari dirinya.


Melodi, isilah sebagian hidupku dengan warna-warna dirimu, sinari hatiku yang terlalu beku dan bisu untuk mengutarakan segalanya. Aku ingin memberi hidupmu tempo, aturan, dan prinsip. Bebas, tetap bebas, dalam batas yang wajar. Berikan diriku beberapa nyanyian indah, karena aku ingin memberikanmu apa yang kau mau.


Aku telah menjadi lelaki yang terlalu bisu, terlalu buta, dan terlalu tuli. Aku dibuat bodoh oleh Melodi, melodi, yang melodius. Semua karena Melodi yang tidak pernah menyadari adanya Rel yang menunggu dirinya bersama ritme dalam kehidupannya.


Andai kehidupanku bermelodi, seperti kehidupanmu. Andai kehidupanmu beritme, seperti kehidupanku. Kita dapat bersatu dengan mudah, tidak perlu aku menjadi sebisu, sebuta, dan setuli sekarang.


Sometimes, you just have to keep something important in your heart.
-IrmaFadhila

No comments:

Post a Comment

Post a Comment