Saturday, March 26, 2011

Choices

Hubungan Anjani dan Daffa sudah berjalan hampir 3 tahun, tetapi tidak pernah ada sesuatu yang spesial dalam hubungan mereka. Anjani sudah mulai jenuh, begitu pula dengan Daffa. Tidak ada salah satu dari mereka yang ingin mengucap kata "putus", karena keduanya masih saling menyayangi dan membutuhkan. Seperti yin dan yang. Mungkin klise kedengarannya, tapi itulah mereka.

Anjani bukan tipe perempuan yang manja dan romantis, ia perempuan yang bawel dan senang membuat lingkungannya tertawa. Sementara, Daffa adalah laki-laki yang pendiam, penurut, dan romantis.


3 Agustus 2010, 19.25

"Jan, aku kangen Paris."

"Duh, Daff.. Siapa yang nggak kangen Paris sih!"

"Maksudku, waktu yang kita habiskan berdua di Paris, di luar rombongan."

"Ooh.. Iya aku kangen kok, kangen."

"Hmmm, kamu masih ingat nggak, yang aku nembak kamu buat ngajak balikan?"

"Masih Daff, aku simpan kok semua memori dan barang-barangnya.."

"Ma chère, don't leave me...."


10 Agustus 2010, 11.40

Anjani masih ingat betul percakapan seminggu yang lalu, di mobil Daffa, sepulang Anjani dari sekolah. Sekarang Anjani duduk di meja kantin, menceritakan semua yang telah terjadi kepada sahabat-sahabatnya, Kishi dan Sjanna.

"JAN!!!! Lo serius?" Kishi tidak sengaja menggebrak meja dan menatap mata Anjani lekat-lekat. Anjani menunduk ke bawah, matanya tidak secerah biasanya.

"Iya, Kish... Gue sendiri masih nggak percaya! Gue jenuh, dia jenuh, datang deh si Melia sialan."

"Ah, I'm sorry to hear that, Jani. You are going to be okay without him." Sahut Sjanna si perempuan berjilbab yang tidak lancar berbahasa Indonesia.

"I thought you and Daffa were the best couple I've ever seen, Jan. Lo yang putus tapi kenapa gue yang speechless dan shocked gini ya? Melia ke laut aja lah! Hih!"

"Ya ampun Kishi, udah tenang aja. Kita senang-senang saja ya? Please, bantuin gue lupain dia. Gue pusing banget sekarang."

Sebulan telah berlalu, Anjani sudah jarang membicarakan Daffa. Biasanya weekend Anjani pergi nonton bersama Daffa, tetapi sekarang ia lebih sering jalan-jalan atau menghabiskan waktu bersama Kishi dan Sjanna.


14 September 2010, 16.38

Hari ini Anjani sengaja main ke rumah Kishi sehabis pulang sekolah, ritual mereka hampir setiap Kishi tidak ada kelas piano di sekolah musiknya.

"So, how's life going without Daffa, Jan? Gue yakin pasti lebih oke kan? Ya nggak?"

"Nggak tau deh Kish, tapi intinya I'm okay kok. Sebenarnya gue mau cerita. Ada temannya Daffa, namanya Ingga."
"Wait, let me guess. Ingga pasti tadinya punya pacar, tapi baru saja putus?"

"Haha smart! Iya, dia baru putus. Dulu, dia selalu jailin gue kalo lagi sama Daffa, tapi nggak pernah bbm-an. Sekarang dia jadi sering bbm-in gue, nanyain kabar, gitu-gitu deh, Kish!"

"Are you stupid or what? HE LIKES YOU, ANJANI!!!!"

"Oh, no! Come on. Nggak mungkin, Kish. Nggak. Mungkin."

"Impossible is nothing. Wake up, Jan!"

Anjani bingung dengan kehadiran Ingga yang begitu mendadak. Ingga sama seperti Daffa, selalu memperhatikan Jani. Tetapi Daffa adalah cowok yang serius, kalau Ingga sama seperti Jani, senang bercanda.

Jani memang merasa enak mengobrol dengan Ingga, tapi justru ia butuh orang lain yang berbeda dari dirinya dan dapat melengkapi hidupnya, seperti Daffa.

Bukan hanya Jani yang bingung, Kishi pun juga sedang bingung. Teman mereka, Ghani, sering sekali menghubungi Kishi untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Jani. Tenang, Kishi tidak suka dengan Ghani dan tidak cemburu. Ia hanya kesal karena harus menghadapi semua pertanyaan Ghani yang aneh-aneh, gayanya sudah seperti detektif atau spy seperti di film-film.


28 September 2010, 07.56

“Jan, gue bingung. Nih, teman sekelas kita, si Ghani, nanyain lo mulu. Gue pusing tau nggak! Ditanyain macam-macam.”

“Kish, saran gue, lo bilang ke dia deh, kalo gue nggak akan bisa sama dia. Gue menganggap dia sebagai teman saja, nggak lebih. Ngomong yang tegas, Kish. Supaya dia ngerti. Gue juga kasihan kali sama lo ditanya-tanyain mulu.”


30 September 2010, 12.23

Kishi tidak tahan ingin merebut Blackberry milik Anjani, untuk mengetahui hal apa yang sedang membuat sahabatnya itu senyam-senyum sendiri, padahal jelas-jelas yang lain sedang ngobrol serius mengenai tugas sekolah yang tiada hentinya.

“Eeeeeh Kish! Direbut gitu aja sih. Ya sudahlah...” Anjani merelakan BB-nya direbut Kishi dan dibawanya pergi entah kemana.

“If I were you, aku sudah panik teriak-teriak karena BB-ku diambil tiba-tiba, Jan...” Sjanna menyahut. Ia memang salah satu anak yang paling susah untuk meminjamkan BB-nya.

“Yeah Sjan, I know you so well kalau kata SM*SH! Hahahaha”

Ya, SM*SH adalah Boyband yang berasal dari.. Ehem, Indonesia. Kabarnya sih agak meniru Boyband Korea. Lagu mereka dan video clip nya sedang naik daun di kalangan anak muda. Ya, unik, tapi bukan jenis musik yang disukai oleh Anjani dan teman-temannya.


30 September 2010, 17.01

“Cieeee BBM-an terus nih sama Ingga. Udah lah, fix! Dia suka sama lo. Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, Jan!” Kishi merebahkan tubuhnya di kasurnya setelah menjalani seharian yang penat, bertengkar dengan guru olah raganya di sekolah.

Anjani memutar-mutar kursi komputer Kishi dan langsung membanting tubuhnya di atas kursi tersebut. “Nggak mungkin Kishi. Ya Tuhan.. Udah gue bilang berkali-kali.... Gue sama Ingga tuh cuma teman. Teman. Teman, Kish..”

“Kalau ada orang yang nanya, Ingga itu siapa lo, lo nggak mungkin jawab teman kan? Hayo?”

“Yaaa.. Gue jawab aja teman BBM-an.”

Bantal langsung dilayangkan Kishi persis ke depan wajah Sjanna.


2 Oktober 2010, 18.00

Kishi masih mengeringkan rambutnya yang baru saja selesai dikeramas, dengan hair-dryer, sambil menunggu Anjani. Rencananya mereka akan pergi pada malam minggu ini, bersama teman-teman yang lain. Film Step Up 3D sudah keluar di seluruh XXI.

Baru saja ia mau menelepon Jani, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Jani ngos-ngosan masuk ke kamarnya, sambil mengenakan kaos putih dan jeans abu-abu. Sangat Anjani, simple dan cuek.

“Assalamualaikum dulu kaleeee.. Ketok kek apa kek....”

“Sorry sorry.. assala.. mu... ala.. ikum. Pinjem komputer, Kish!!! Gue sign out Facebooknya ya!!!”

“Ya, terserah lo. Mau ngapain sih?”

Akhirnya Kishi menghampiri Jani yang sibuk melihat foto seorang cowok di Facebooknya. Ia seperti sedang meng-stalk seorang cowok. Sangat bukan Anjani.


2 Oktober 2010, 14.30

“Hah? Lo lagi suka sama cowok Ven?” Jani menelepon Vena, sahabatnya semasa SMP, sampai sekarang, saat Vena confess di BBM bahwa dirinya sedang menyukai teman barunya di SMA.

“Iya Jan, dia tinggi banget dan pemain basket. You know my type.” Jani penasaran seperti apa bentuk cowok tersebut.

“Eh, Ven. Gue lagi buka Facebook nih. Nah, pas di homepage, gue liat ada cowok, besar, tinggi, pakai kaos biru, lagi main tarik tambang. Di album teman sekolah lo kok. Itu siapa... Keren banget...”

“Pakai kaos biru kan, Jan??!!!”

“Iya.. Jangan bilang...”

“Tenang! Bukan itu cowok yang gue maksud. Yang gue maksud itu, namanya Derry. Sementara yang di foto itu, namanya Redha. Dia anak baru di sekolah gue. Minggu depan lo harus ke sekolah gue, nanti gue kenalin, pasti!


2 Oktober 2010, 18.05

“Nah iya Kish, jadi ceritanya begitu. Keren kan cowoknya? Jangan bilang.....”

“He? Biasa aja ah. Rambutnya jabrik-jabrik nggak jelas gitu, Jan. Tapi gue tahu dia siapa.”

“LO KENAL?!”

“Nggak, tapi tahu teman-temannya. Dulu dia sekolah di Sekolah Pondok Indah, setahu gue jago banget main gitarnya. Kakaknya dia itu penyanyi terkenal. Tahu kan, si Rhoma!”

“Hah gila.... Kok lo tahu aja sih. Kish, tapi dia keren banget..”

“Ya ya ya ya terserah.. Yuk cabut sekarang! Ntar nggak dapet tiket nonton lagi..”


6 Oktober 2010, 17.25

“Gila, sudah satu jam gue nunggu di canteen, akhirnya lo keluar kelas juga, Ven.” Anjani sudah pasang raut wajah bete dengan susu strawberry di depannya.

“Sorry, tadi gue mesti discuss project dulu sama guru English gue. Lama banget ya. Sorry.”

“Ya sudahlah, yuk jadi ke McD nggak?”

“Jadi jadi. Eh sebentar, gue kan janji mau kenalin lo ke Redha. Tapi maaf banget, dia sudah pulang tadi. Kayaknya gara-gara gue telat keluarnya nih jadi nggak sempat kenalin ke lo.”

“Yah.. Oh iya. Ya sudahlah kapan-kapan masih bisa kok, Ven.”

“Pinjam BB lo deh, Jan.”

Vena memencet tombol-tombol yang berada di BB Jani dengan cepat dan lincah. Jani heran apa yang sedang dilakukan oleh Vena dengan wajah yang begitu berseri-seri.

“Ngapain sih, Ven?”

“Sudahlah, nggak perlu tahu. Yuk, jalan.”


6 Oktober 2010, 20.28

Ternyata, Vena nge-add PIN BBM-nya Redha melalui BB Jani. Sengaja, agar mereka bisa mengobrol. Dan terbukti, setelah Redha mengatakan satu kata “Halo” sebagai permulaan, mereka sering mengobrol melalui teknologi yang super canggih itu.

Jani juga sering sekali dikirimi voice-note yang berisi permainan gitar dan suara indah Redha. Jani mengakui bahwa Redha adalah musisi yang sangat berbakat, seperti kakaknya Redha yang sudah menjadi penyanyi terkenal, Rhoma.


18 November 2010, 14.18

“Kish, kakak kelas gue dulu di Sekolah Nusantara, si Bonny, masa tiba-tiba jadi suka BBM gue, ngajak jalan-jalan segala macam, nggak jelas. Gue jadi bingung.” Anjani menghampiri Kishi yang sedang sibuk mencari notebook Biologynya di dalam loker.

“Hah? Ya, tipe-tipe aneh tuh. Kacangin aja Jan, seram ah. Masa tiba-tiba gitu.”

“Tapi dia baik banget...”

“Jangan tertipu sama baiknya deh. Lo cerita ke Ingga tentang itu?”

“Nggak Kish, gue takut. Tapi keanya sih, Ingga tau. Bonny kan teman seangkatannya Ingga. Gue juga nggak ngertilah, nggak penting..”


26 Desember 2010, 13.10

“Gimana sama si Bonny?”

“Udah kok, gue menjauh aja. Malas, Kish. Tapi masalahnya, gue jadi deket sama Moreno.”

“ADUH SIAPA LAGI ITU JAN? Kok banyak amat ya, hidup lo ribet juga.”

“Dia sahabatnya Ingga. Awalnya dekat gara-gara BB-nya Ingga ketinggalan di mobil Moreno, terus jadi suka BBM-an. Dia baik banget Kish..”

“Iya, lo bisa nyebut semua orang baik, tapi ga semua orang baik di dalem hatinya juga. Lo harus bisa mengambil keputusan lo sendiri, Jan. Gue mau bantu, tapi gue nggak bisa bantu sejauh masalah perasaan. Karena, lo yang merasakan. Lo lebih ingin dekat dengan yang mana, atau gimana.. Semua keputusan ada di lo, Jan.”

Anjani langsung berpikir setelah mendengar pernyataan dari Kishi yang sangat tidak biasanya, menusuk.


28 Januari 2010, 22.10

“Ya Tuhan gue baru mau tidur. Ini siapa lagi BBM jam-jam gue udah nyaris pingsan.”

Anjani: Kishy, guess what. Gue lg nemenin Moreno makan malem. Gue gatau mesti gimana. Tadi tiba-tiba dia jemput kerumah, terus gue gaenak, akhirnya gue temenin aja makan malem bentar di luar. Gue takut Ingga tau.”

“Lo sayang sama Ingga, Jan. Gue yakin.” Hanya itu yang terbesit dalam benak Kishi.


31 Januari 2010, 08.00

“Ingga tau.” Anjani tertunduk lemas di sofa sekolah.

“Tau.... Moreno?”

“Iya, gue BBM-an sama Moreno pas dia lagi jalan sama Ingga. Moreno padahal janji nggak cerita ke Ingga, tapi ternyata dia muna. Dia cerita semuanya ke Ingga.”

“Terus seka....”

“Iya, Ingga marah sama gue, Kish. Dia marah banget. Dia merasa dibohongin.”

“Lah? Dia marah kenapa? Eh.. Gue tau.. Keanya..”

“Iya, jadi..”

“GUE DARI TADI NGOMONG DIPOTONG MULU JAN....”

“Tapi lo pasti bakal kaget!!!! Kan gue tanya ke dia, kenapa dia bertindak seperti marah sama gue. Terus tiba-tiba dia bilang satu kata dengan 5 huruf ke gue. Ayo, lo pasti tau, tebak!!!”

“Love? Itu 4. Sayang? Itu 6. Suka? Itu 4 juga...” Kishi tidak dapat ilham sama sekali untuk menebak.

“Ya ampun, mendekati. Itu gampang banget Kish..”

“CINTA?!?!”

Anjani hanya mengangguk dengan pipi yang sudah merona merah.

Friday, March 25, 2011

Pengembara Keliling Dunia


Menjadi seorang pengembara keliling dunia adalah mimpiku sejak aku tahu sebuah kata yaitu 'jalan-jalan'. Kira-kira sejak aku berusia 6 tahun. Ayahku adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan ekspedisi, jadi hal itu membuatnya harus bepergian ke seluruh pulau di Indonesia. Kadang selama sebulan dia pergi sebanyak tiga kali, meninggalkan aku dan Ibu di rumah. Namun dia selalu membawa oleh-oleh dari setiap pekerjaannya, dan kebanyakan dari oleh-oleh itu adalah cerita. Cerita bagaimana indahnya Labuan Bajo, cerita tentang suku Dayak di Kalimantan, cerita tentang tempat paling enak untuk menikmati matahari tenggelam di Pulau Rote, cerita tentang museum peringatan tsunami di Aceh, dan banyak cerita lain yang merangsang imajinasiku.

Sejak itu aku tahu aku harus menjadi seorang pengembara. Atau dalam bahasa kerennya, 'traveler'. Tapi kata 'pengembara' terkesan lebih dramatis, bukan? Sejak itu, di semua buku biodata yang diberikan kepadaku untuk diisi (kau tahu kan, buku-buku biodata anak SD yang ditulis dengan tulisan-tulisan norak warna-warni), aku selalu menulis 'CITA-CITA: PENGEMBARA' sebagai salah satu bagian dari biodataku (yang biasanya selalu kutulis dengan tinta hitam, tidak ada hiasan-hiasan norak ataupun stiker-stiker).

Sudah empat belas tahun berlalu sejak Larasitta kecil berkoar-koar ingin menjadi seorang pengembara, dan sampai sekarang cita-citaku itu belum berubah. Sejak SMA, aku sudah rajin menabung, uangnya digunakan untuk pergi dengan teman-teman ke luar kota saat liburan sekolah. Di SMA aku sudah berhasil mengembara ke pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa (selama tiga tahun berturut-turut). Tahun pertama kuliah, aku dan beberapa teman kuliahku pergi backpacking Thailand-Malaysia-Singapura.

Lalu entah kenapa, sepertinya di tahun kedua kuliah (sekarang) aku merasa bosan akan cita-citaku ini.

Mungkin karena realitas dunia kuliah, atau tugas yang menumpuk dan tak henti-hentinya sebagai mahasiswi Teknik Mesin, yang membuatku enggan bepergian. Rasanya tiga bulan liburan hanya ingin kuhabiskan dengan cara bengong dan bengong di rumah.

Sampai suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang kembali memunculkan semangat mengembaraku. Ini adalah ceritanya - ceritaku juga.

***

Perpustakaan Fakultas Teknik
Februari 2011

Aku sedang mencari buku untuk tugas kuliah, ketika tiba-tiba seseorang bertanya kepadaku, "Maaf, kalo mau cari buku tentang Permodelan Sistem, carinya dimana ya?"

Aku terhenyak. Bukan, bukan karena dia mengagetkan aku yang sedang sibuk-sibuknya mencari buku, tetapi aku terhenyak karena melihat orang yang mengagetkanku.

Wajahnya seperti campuran antara Irfan Bachdim dan Mario Maurer - atlet Indonesia dan artis Thailand kesukaanku, ditambah kacamata kotak ber-frame hitam. Dalam hati aku mencoba untuk menenangkan diri, lalu berkata, "Sekitar tiga rak dari sini."

"Makasih," cowok blasteran Bachdim-Maurer itu tersenyum lalu bergegas ke arah yang kutunjukkan barusan. Setelah mendapat buku yang kucari, aku bergegas menuju salah satu meja baca perpustakaan yang kursinya diduduki Helena dan Ayu, dua perempuan Teknik Mesin lainnya, selain aku.

"Len, pernah liat cowok blasteran Bachdim-Maurer nggak di sekitar kampus kita?" tanyaku (belagak) cuek sambil membaca buku yang barusan kuambil dari rak. Aku sengaja bertanya kepada Helena karena dia kenal hampir semua orang di Fakultas Teknik - baik senior maupun junior, baik dari jurusan Teknik Mesin maupun dari jurusan Teknik lainnya.

"Hah? Bachdim-Maurer? Kayaknya pernah. Tapi nggak tau deh," jawab Helena santai sambil mendengarkan lagu di iPod-nya.

Aku kembali menekuni bukuku, sambil ngobrol-ngobrol sedikit dengan Helena dan Ayu - tentang kelas berikutnya, tentang film di bioskop, dan lain-lain. Lalu tiba-tiba aku melihat cowok Bachdim-Maurer itu tepat di depanku, sedang mengobrol dengan temannya. "Yang itu Len," bisikku sambil mencolek Helena.

Helena melepaskan earphone dari telinganya lalu melihat cowok yang barusan aku tunjuk. "Oh, itu! Ya ilah Lar, itu mah gue kenal!" suaranya agak keras, lalu aku sewot dan berkata, "Woi, nggak pake teriak bisa nggak, Len?" Ayu hanya terkikik melihat Helena yang tersipu malu setelah kutegur.

"Iya, gue kenal sama cowok Bachdim-Maurer yang barusan lo liat," bisik Helena. "Namanya Adrian. Anak Teknik Industri, seangkatan sama kita. Kenapa? Mau gue kenalin?" ujar Helena usil.

"Heh! Nggak usah, nggak usah!" bisikku gusar sambil mencubit Helena. Dia dan Ayu hanya terkekeh. "Muka lo merah, Lar..." ujar Ayu sambil terkikik bersama Helena. Sialan, pikirku.

***

Rumah Larasitta
Februari 2011

Sudah tiga minggu berlalu sejak pertemuan sesaatku dengan cowok blasteran Bachdim-Maurer bernama Adrian, dan kami tidak pernah bertemu lagi. Yah, mungkin bukan jodoh, pikirku. Lagipula berdasarkan stalking Facebook, ternyata dia sudah punya pacar, cewek anak Fakultas Ekonomi yang namanya begitu susah sampai malas untuk kuhafalkan (semuanya berkat Helena, anak tereksis di seluruh Fakultas Teknik).

Aku sedang membereskan rak buku di kamar tidurku (yang 80% isinya adalah buku-buku Lonely Planet, BUKAN buku-buku Teknik Mesin) ketika Ibu berteriak dari luar, "Lara! Ayu dateng, nih!"

"Iya Bu, sebentar!" aku buru-buru membereskan rak buku, kemudian bergegas keluar kamar. Di ruang tamu sudah ada Ayu, sepertinya Ibuku sudah membuatkannya minum dan memberinya sedikit cemilan.

"Hey Yu, udah lama? Sorry ya, gue tadi lagi beresin kamar," ujarku sambil duduk di sebelah Ara, lalu mencomot kue putri salju dari toples yang diletakkan di meja tamu.

"Baru kok Lar, santai aja lagi," jawab Ayu. Kemudian dia mengeluarkan sebuah map berwarna hijau dari tasnya dan menyerahkan map itu kepadaku. "Apaan nih?" tanyaku kebingungan.

"Begini, Lar. Gue dan sebagian dari teman-teman pecinta alam memutuskan untuk bikin klub baru yang merupakan sub-bagian dari klub pecinta alam. Bedanya, klub ini adalah klub pengembara - singkatnya, klub untuk orang yang suka jalan-jalan. Gue tau, lo adalah orang yang tepat untuk masuk dalam organisasi ini. Kira-kira lo berminat, nggak?" tanya Ayu straight to the point - sebuah sifat yang sama denganku dan membuat aku klop bergaul dengan Ayu.

"Terus ini map isinya susunan kepengurusan, gitu?" tanyaku sambil membuka map hijau tersebut. Beberapa kertas ada di dalam map tersebut, isinya semacam proposal, anggaran dasar, dan lain-lain.

Ayu mengangguk. "Iya, Lar. Gue dan beberapa teman lain udah mau jadi pengurus inti disitu. Kita tinggal nyari ketua sama sekretarisnya aja, nih." Ayu kemudian menunjuk ke beberapa nama di susunan kepengurusan, memang tertera nama Ayu disitu, sebagai ketua publikasi, beserta dengan nama-nama lain yang tidak kukenal. Dua jabatan yang belum terisi adalah ketua dan sekretaris. "Lo mau jadi apa, Lar?"

Aku berpikir sebentar. Komunitas ini adalah sesuatu yang sangat menjanjikan, dan terus terang, aku ingin mencari teman jalan-jalan yang baru. Siapa tahu klop, dan kami bisa merencanakan pergi ke suatu tempat rame-rame. "Oke, boleh Yu. Gue... jadi sekretaris aja deh."

"Kenapa nggak jadi ketua, Lar? Lo cocok banget lho. Kayaknya yang udah hobi jalan-jalan dari SMA itu cuma lo, deh."

Aku menggeleng. "Nggak deh, Yu. Gue males jadi ketua... tanggung jawabnya gede. Mending gue yang jadi sekretaris, kerjaannya cuma ketak-ketik di komputer. Ya udah, sign me up, ya!"

Ayu tersenyum. "Oke, Lar. Makasih banyak ya! Nanti kalo kepengurusannya udah jadi, bakal gue kabarin anak-anak pengurus inti untuk bikin rapat pertama."

***

Ruang Senat Fakultas Teknik
Maret 2011

Sudah dua minggu berlalu sejak aku menyetujui menjadi sekretaris dari KOBATIK - Komunitas Backpacking Teknik - komunitas 'pengembara' yang ditawarkan Ayu tempo hari. Hari ini adalah rapat pertama pengurus inti KOBATIK untuk menentukan rencana kerja, pengesahan menjadi badan resmi, dan lain-lain. It's gonna be a freaking long day, pikirku.

Sesudah mata kuliah jam tiga, aku langsung berlari tergesa-gesa menuju ruang senat. Begitu sampai di ruang senat, sudah ada lumayan banyak orang berkumpul. Aku masuk ke dalam ruang senat lalu duduk di sebelah Ayu. "Sorry telat, Yu. Pak Bondan ngajarnya lama dan ngebosenin - seperti biasa..."

Ayu hanya meringis. "Santai aja, Lar. Belom mulai kok, ketuanya aja belom dateng."

"Oh, jadi udah ada ketuanya?" tanyaku kebingungan. Ayu mengangguk. "Tapi gue nggak tau siapa. Eh, Lar... Coba liat siapa yang dateng," ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu ruang senat.

Sesaat aku melihat ke arah pintu ruang senat, jantungku serasa copot, rahangku serasa mau jatuh. Adrian, cowok blasteran Bachdim-Maurer, berada di depan pintu. "Sorry gue telat," ujarnya sambil meringis. Kemunculannya langsung diolah sedemikian rupa di otakku, seakan-akan dia muncul dengan efek slow motion. Kemunculan Adrian juga bereaksi pada koor "HUUU" anak-anak KOBATIK, lalu seorang cowok yang kukenali bernama Heru - Teknik Lingkungan 2007 berkata, "Payah nih, ketua kok telat!"

"Itu cowok Bachdim-Maurer yang bulan lalu lo kecengin kan, Lar?" ekspresi Ayu tak kalah kagetnya. "Sumpah. Gue bener-bener nggak tau soal si Adrian jadi ketua. Kayaknya si Heru yang ngajak dia."

Aku menelan ludah. Sungguh tidak bisa dipercaya. Si cowok Bachdim-Maurer - oke, aku harus memanggilnya dengan nama aslinya mulai dari sekarang, Adrian - menjadi atasanku di KOBATIK. Sementara aku belum mengenalnya sama sekali.

Melihat tampangku yang sepertinya sudah bercampur antara ekspresi kaget-takut-senang-bingung, Ayu hanya bisa menepuk pundakku sambil berkata, "Yang sabar ya, Lar. Semoga lo bisa mengontrol dreamy face lo selama bekerja satu tahun bareng Adrian."

Tak lama kemudian, rapat dimulai. Isinya perkenalan pengurus inti, jabatan, jurusan masing-masing, dan kenapa tertarik membuat atau menjadi anggota KOBATIK. Yang pertama memperkenalkan diri adalah Adrian. Dia berdiri dengan gagahnya, lalu berkata dengan suaranya yang lantang, "Nama gue Adrian Wiratama, gue anak Teknik Industri angkatan 2009. Gue tertarik untuk masuk KOBATIK karena gue suka backpacking, dan gue pengen cari temen sesama pecinta jalan-jalan." Wow, suaranya bagus, pikirku.

"Ada yang mau kenalan lagi? Sekretaris, mungkin?" tanya Heru selaku moderator rapat (aku sendiri tidak tahu si Heru menjabat apa di KOBATIK, mungkin dia menjabat sebagai Penasehat karena dia sudah cukup senior). Aku menghela nafas. Sekretaris, ya, itu jabatanku di organisasi ini. Dengan gugup aku berdiri, kemudian berkata, "Nama gue Larasitta Hermawan, gue anak Teknik Mesin angkatan 2009... Gue tertarik di KOBATIK karena cita-cita gue adalah menjadi pengembara."

Kontan, seluruh orang di ruang senat terkikik begitu mendengarku mengucapkan kata 'pengembara'. "Lo mau jadi apa tadi?" tanya seorang cewek tomboy dengan rambut spike yang tidak kukenal.

"Eh... pengembara. Emang kenapa?" tanyaku bingung. Apakah aku mengucapkan kata-kata yang salah?

"Kalo mau jadi pengembara mah, nggak usah jadi mahasiswa Teknik! Lulus SMA merantau aja ke negeri orang! Hahaha..." cewek tomboy nyolot itu kembali tertawa bersama beberapa orang lain. Aku mulai risih. Siapa sih ini cewek. Belagu amat, pikirku. Aku kembali duduk kemudian manyun sendirian. Ayu di sebelahku berbisik, "Namanya Ira. Dia emang rada nyolot. Diemin aja, Lar. Posisinya lebih rendah kok dari lo, dia cuma koordinator anggota. Nanti kapan-kapan itu anak bisa lo nyolotin balik." Aku hanya mengangguk lemas. Dari sudut mataku, aku menangkap figur Adrian duduk di pojok, tampangnya begitu tenang. Sepertinya dia tidak menghiraukan ejekan orang-orang tentang cita-citaku menjadi 'pengembara'.

Setelah acara perkenalan, ruang senat langsung ramai karena agenda saat itu adalah peresmian KOBATIK. Kami mengadakan rapat sebentar, dilanjutkan dengan acara makan-makan. Kebetulan beberapa orang sudah menyiapkan nasi boks untuk disantap bersama-sama.

Aku dan orang-orang lain sedang mengantri untuk mengambil nasi box, ketika tiba-tiba ada orang yang mencolek pundakku dari belakang. Aku menoleh, kemudian sedikit kaget begitu melihat Adrian berdiri dibelakangku, nyengir. "Pengembara, ya?"

Aku mencibir. "Diem aja lo. Mau ngeledek gue lagi?"

"Hih, siapa bilang? Gue suka sama kata-kata itu, dibandingkan kata 'traveler'. Kata 'pengembara' lebih dramatis." Dia mengubah cengirannya menjadi sebuah senyum tulus. "Gue Adrian," ujarnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

"Larasitta," jawabku cuek sambil membalas uluran tangannya. Dalam hati aku berteriak senang karena akhirnya aku berhasil menyentuh tangan Adonis ini. "Jadi... lo bos gue ya?" aku nyengir sendiri mendengar diriku berkata 'bos' kepadanya.

"Halah, pake acara bos-bosan. Biasa aja, kali... Tapi secara teknis, iya, gue bos lo." Kami tertawa atas lelucon garing Adrian, setelah itu kami mengambil nasi box masing-masing dan berpisah jalan. Aku makan bersama Ayu, sedangkan Adrian tidak tahu pergi kemana.

"Cieeeeee, yang barusan kenalan..." Ayu menyikut pinggangku sambil tersenyum geli. Aku hanya memeletkan lidah kepadanya.

"Apaan sih lo, Yu. Biasa aja, kali. Masa ketua sama sekretaris nggak kenal, sih." Kemudian aku memulai makan dengan cuek. Padahal hatiku sangat berteriak keras-keras karena akhirnya aku berhasil mengenal sosok Bachdim-Maurer yang selama ini aku senangi.

***

Blue Pod, Semanggi
April 2011

"Jadi, rencana kita akhir semester ini adalah berpetualang keliling Papua. Udah fix, ya? Ini adalah acara pertama kita, sebelom kita muncul di ospek FT bulan Agustus nanti, untuk memperkenalkan komunitas kita ke mahasiswa baru," kata Adrian menutup rapat sore itu. Program kerja pertama KOBATIK adalah backpacking ke Papua, sekaligus diving di Kepulauan Raja Ampat. Sore itu sudah hadir seluruh pengurus inti KOBATIK beserta dua puluh orang anggota tetapnya, di sebuah kafe kecil di daerah Semanggi.

"Ira, tolong lo data lagi anak-anak yang bisa ikutan, dan tolong hitung keseluruhan biayanya. Nanti jangan lupa kasih follow-up ke Bisma, supaya dia bisa bikin proposal resmi. Nanti tolong kasih ke Larasitta untuk diketik," ujar Adrian lagi. Kharismanya sangat terlihat sebagai ketua. Kami semua - termasuk yang namanya disebut - mengangguk dan sigap menuliskan tugas masing-masing di buku catatan. Termasuk aku. Selaku sekretaris, aku wajib membuat notulen rapat.

Beberapa menit kemudian, rapat selesai. Kami bersiap-siap untuk pulang, karena hari sudah semakin gelap. Ketika aku sedang memasukkan kertas-kertas dokumen KOBATIK ke map, Adrian mendekatiku. "Lara, bisa ngomong sebentar?"

"Ada apa, Dri?" tanyaku cuek.

"Gue minta tolong sama lo, bisa? Dua hari lagi gue mau cari tau maskapai penerbangan yang bisa ngasih kita rate murah untuk ke Papua, dan gue pengen lo ikut sama gue. Bisa nggak?"

Jleb. Adrian memintaku untuk survey bersama dengannya? Ketika aku sedang berpikir, dia kembali menyambung kata-katanya, "Lagian lo kan sekretaris gue. Udah harusnya ketua pergi kemana-mana sama sekretaris, kan?"

Yah, aku tidak bisa menolak. "Oke. Kebetulan hari itu gue kosong. Bisa jemput ke rumah gue, Dri?" kemudian aku menuliskan alamatku di secarik kertas, lalu memberikannya kepada Adrian.

"Perfect," Adrian tersenyum. "Sampai ketemu dua hari lagi, Lar."

***

Kantor Pusat Cendrawasih Airlines
April 2011

"Oke, makasih banyak ya, Mbak!" Adrian tersenyum kepada mbak-mbak ticketing. Sepertinya si mbak ikutan terhanyut oleh pesona Adrian, sehingga dia hanya bisa tersenyum balik dengan muka dreamy face. Kemudian Adrian berjalan ke arahku yang menunggunya di kursi ruang tunggu.

"Gimana, Dri?" tanyaku penasaran.

"Mereka bilang, untuk flight ke Papua kalo mau berangkat bulan Juli, bisa diskon sampe 50%," Adrian tersenyum lebar. "Akhirnya, gue bisa ke Papua juga!"

Aku ikutan senang melihat tampang Adrian. "Emang lo udah pernah jalan-jalan kemana aja, Dri?"

"Hampir seluruh Indonesia," Adrian duduk di sebelahku. "Kecuali Papua. Kalo lo?"

"Gue... Sumatera-Kalimantan-Jawa, sama Thailand-Malaysia-Singapura. Yah, belom cukup berpengalaman, lah..." aku nyengir lebar. Adrian tersenyum. "Keren banget... Gue pengen cerita sama lo. Tapi di mobil gue aja ya."

***

Mobil Adrian
April 2011

"Sebenernya gue sama sekali belom pernah jalan-jalan sendirian," ujar Adrian begitu kami berdua masuk mobilnya.

Aku mengernyitkan dahi. "Lho? You look pretty confident up there, Dri. When you were negotiating with the ticketing girl..."

"Iya, gue tau. Itu semua karena bokap gue adalah pemilik jaringan travel terbesar di Indonesia."

Aku melongo. Adrian... anak pemilik jaringan travel? "E... Emang bokap lo yang punya travel apa, Dri?"

"World Travel," jawab Adrian tanpa menengok ke arahku. Alih-alih, matanya menerawang ke luar lewat kaca mobil. Kemudian dia menyalakan mesin mobil.

Adrian menyalakan mesin, aku yang termangu seperti orang tolol. World Travel adalah salah satu jaringan travel terbesar dan tertua di Indonesia, melayani tour keliling dunia, maksudku benar-benar keliling dunia. Mungkin mereka punya tour sampai ke Kutub Selatan dan Kutub Utara juga. "Oh," jawabku singkat, benar-benar tidak punya apapun untuk dikatakan lagi.

Mobil Adrian melesat keluar kantor Cendrawasih Airlines, menuju rumahku. "Bokap gue yang ngajarin gue semua ini, pokoknya tetek-bengek urusan hospitality. Tapi anehnya, dia nggak pernah ngebiarin gue jalan-jalan sendirian. Dia nggak pernah ngebolehin gue berpetualang ke tempat terpencil hanya dengan berbekal ransel dan buku sakti Lonely Planet. Menurutnya, jalan-jalan yang benar adalah pake jasa travel agent, dimana lo harus didikte semuanya; mulai dari dimana lo tinggal sampe makanan apa yang akan lo makan. Gue bosen. Itu sebabnya gue seneng banget waktu Heru nawarin gue untuk jadi ketua KOBATIK, karena gue tau komunitas ini adalah komunitas backpacking."

Aku terdiam membisu mendengarkan cerita singkat Adrian. Persoalannya memang sederhana, tentang dia yang tidak suka pergi jalan-jalan dengan travel agent, dan dia belum pernah punya kesempatan untuk menikmati kebebasan bertualang secara backpacking. Begitu aku mau merespon, dia buru-buru bilang, "Jangan kasih tau sama anak-anak ya, Lar. Gue nggak mau mereka temenan sama gue cuma karena gue anak dari yang punya World Travel."

"Iya, gue janji," jawabku singkat. "Terus... Selama ini lo jalan-jalan sama siapa dong?"

"Yaaaaa, sama bokap gue," jawabnya. "Walaupun bokap gue udah jadi bos besar dan dia bisa leha-leha semau dia, tapi dia tetep aja mau riset ke daerah-daerah yang katanya bisa dijadiin paket wisata. Itu sebabnya kenapa gue bilang gue udah pergi ke seluruh Indonesia kecuali Papua. Tapi......... ngebosenin, Lar. Gue nggak bisa explore keindahan daerah-daerah itu karena gue harus ngikutin kemanapun bokap gue pergi. Dan bokap gue pengennya ke daerah-daerah yang udah jadi tempat wisata komersil. Gue bosen, pengen sesuatu yang baru, tapi terbentur sama aturan-aturan. Yah, mau nggak mau, deh..."

Aku terdiam. Wah, berarti selama ini aku beruntung sekali punya orang tua yang membebaskanku untuk pergi kemanapun dan dengan siapapun yang aku mau. Kasihan sekali si Adrian, walaupun dia orang kaya, tapi untuk jadi backpacker saja tidak bisa. "Emang lo nggak punya temen yang bisa diajak jalan-jalan susah kaya begitu, apa?"

Adrian melengos. "Meh, boro-boro. Makanya gue ikut KOBATIK, karena gue tau kalian semua - termasuk lo - adalah orang-orang paling seru untuk diajak jalan-jalan susah."

Aku tertawa mendengar penjelasan Adrian. Kami kembali tidak bicara satu sama lain. Setelah beberapa lama, akhirnya Adrian kembali buka suara, "Bahkan mantan gue juga sama kayak bokap."

Aku melotot. "Maksud lo?" Oke, kenapa dia malah jadi curcol begini, pikirku.

Adrian terkekeh. "Gue belom cerita sama lo ya?" tanyanya. Aku menggeleng, untuk apa aku tahu, coba? "Ya, begitu deh. Mantan gue yang terakhir juga sama kayak bokap gue, maunya jalan-jalan yang royal, dikit-dikit belanja, dikit-dikit makan di restoran mahal... Capek juga gue ngeladenin cewek-cewek matre macem begitu. Coba semua cewek kayak lo, Lar. Sejauh yang gue liat, lo tipe-tipe cewek anteng yang kayaknya nggak masalah sama soal materi."

Larasitta, jangan tersipu. Demikian kata yang kuulang berkali-kali dalam otakku yang kini rasanya sudah memanas. "Ehhhh... Biasa aja ah gue..." jawabku pelan sambil memalingkan wajah ke arah kaca mobil, sok-sok melihat ke luar (padahal sih menyembunyikan semburat merah di pipiku).

"Cita-cita lo apa, Lar?" tanya Adrian lagi.

"Pengembara," jawabku pendek tanpa memandang balik Adrian.

"Emmm... Kalo gue mengembara sama lo, boleh? Mengembara keliling dunia sama lo, boleh?"

"Hah? Maksud lo?" Kali ini baru aku memalingkan wajah. Kenapa tiba-tiba Adrian minta untuk mengembara bersamaku?

"Ya... Gue mau jadi pengembara juga. Sama lo tapinya, nggak mau sama yang lain. Gue pengen tersesat di desa antah berantah sama lo, pengen nungguin pesawat yang delay semaleman sama lo, intinya I want to get lost with you. Boleh, nggak?" Dia tersenyum simpul, matanya berbinar-binar dibalik frame kacamatanya.

Aku hanya bisa tersenyum lalu mengangguk mantap. Adrian hanya bisa tersenyum lalu menginjak pedal gas sedalam-dalamnya, membuat mobil ini melesat dalam kecepatan tinggi. Menuju petualangan yang baru.





Forever yours, Judy Wilhelmina

Saturday, February 5, 2011

Memeluk Bintang

“Mas Asa, mas Asa..” Bik Suki mengguncang-guncang bahu tuannya perlahan. Asa bergumam tidak jelas dan cowok itu sama sekali tidak membuka matanya.
“Mas, bangun mas. Bibi lagi ninggalin sup di dapur. ini ada telepon.”
Asa membuka sebelah matanya. “Siapa Bik?” tanya Asa sambil menguap.
“Non Kara, mas.” Wanita setengah baya itu menyerahkan wireless phone ke tangan Asa dan terburu-buru berlari keluar dari kamar majikan mudanya itu.
“Ha—“
“Asaaa..!! Jangan tidur terus! Kamu kenapa sih hobi banget tidur? Lama banget lagi dibanguninnya, pulsa aku keburu abis nih.” Kara setengah berteriak.
Asa menjauhkan telepon dari telinganya. Dia bahkan belum sempat bilang ‘halo’.
“Salah sambung.” kata Asa asal.

“Nggak mungkin. Bangun Sa, bangun. Kamu kalo tidur kayak mati deh, jadi serem.”
“Apa sih, Ra? Aku ngantuk nih.”
“Sa, kamu ke rumah aku dong.”
“Ngapain?” Asa nyaris selalu bad mood kalau baru bangun tidur, apalagi dibangunkan paksa oleh Kara.
“Aku mau minta tolong Sa. Please, please.” Nada memohon terdengar jelas dalam suara riang Kara.
Asa berpikir sejenak. “Yaudah, bikinin aku milkshake ya tapi?”
“Beres!” Kara tertawa di ujung telepon.
KLIK. Telepon ditutup. Asa merentangkan kedua tangan dan meregangkan badannya.

“Cita-cita aku jadi astronot.” Kara duduk di sebelah Asa dan
memasang wajah serius.
Asa menoleh menatapnya. “Jadi astronot? Kenapa?”
Kara tersenyum. “Soalnya—“

Asa tertegun, masih dengan pose kedua tangannya terentang ke atas.
Loh, kok tiba-tiba dia teringat salah satu percakapan pertamanya dengan Kara. Percakapan itu rasa-rasanya terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, sewaktu mereka baru masuk SMP, kalau tidak salah. Entahlah Asa sudah lupa kapan persisnya. Dia bahkan tidak ingat kelanjutan percakapan itu, tapi rasanya Asa ingin bisa mengingatnya. Rasanya itu sesuatu yang penting. Sudahlah, pikir Asa. Toh dia akan segera bertemu dengan cewek itu, konfirmasi memori Asa bisa dilakukannya kapan saja. Dengan menghitung satu, dua, tiga dalam hati Asa melompat bangun dari tempat tidurnya, menyambar jaket hitamnya, tidak peduli dengan rambutnya yang acak-acakan, cowok itu menuruni anak tangga di depan kamarnya dan membuka pintu depan.
“Loh, mau kemana mas?” kepala Bik Suki menyembul dari dapur.
“Ke rumah Kara bik.”
“Nggak mandi dulu, mas?” tanya Bik Suki.
“Nggak usahlah Bik, ke rumah Kara ini. Nanti supnya sisain buat saya ya.”
Bik Suki tertawa. “Beres mas, salam dari Bibik buat Non Kara.”
Asa mengangguk-angguk sambil membuka pintu pagar dan berjalan keluar. Rumah Kara ada di kompleks yang sama dengannya, hanya bebeda dua blok, jadi dia bisa dengan cepat sampai disana.
“Asa!” suara yang familiar memanggil Asa dari belakang. Cowok itu menoleh dan langsung tersenyum lebar. “Hei Dit! Kapan balik lo?”
“Baru kemaren.” Radit nyengir sambil melempar bola basket yang sedang dipegangnya pada Asa. Asa menangkapnya dan melangkah mendekati Radit. Raditya Touran ini teman baik Asa semasa SD-SMP. Temen basket, temen nongkrong, temen nyontek, temen dihukum, temen telat, temen segala temen pokoknya. Radit pindah ke Australia begitu mereka masuk SMA karena pekerjaan ayahnya mengharuskan mereka sekeluarga pindah ke sana.
“Basket?” Radit mengangguk ke arah lapangan basket di belakangnya.
Next time, Dit. Gue ada panggilan nih.” canda Asa.
“Heh? Lo sekarang jadi cowok panggilan?”
Asa refleks melempar bola basket di tangannya ke arah Radit. “Sialan.”
“Mau kemana sih loe?” tanya Raditya, curious karena setahunya yang namanya Asa tidak pernah melewatkan ajakan main basket demi apapun. Bahkan demi ulangan dobel sejarah-fisika semasa SMP.
“Ke rumah Kara. Mau ikutan?”
Moh. Ngapain gue jadi nyamuk gangguin orang pacaran?”
“Dia bukan—“
“Iye, bukan pacar loe. Sms gue kapan mau maen bareng yak, ajakin anak-anak. Minggu depan gue cabut lagi nih.” Radit berjalan mundur ke arah lapangan basket sekarang.

Asa mengangguk. “Okelah, see you around.”

***
Asa kini sudah sampai di rumah Kara, dan cewek itu menyambutnya dengan senyum lebar, sesuatu yang nggak biasanya terjadi. Biasanya Asa malah disuruh buka pintu sendiri dan langsung masuk ke dalam. Kalau ditanya kenapa Asa nggak pernah selayaknya diperlakukan sebagai tamu, Kara akan dengan asalnya menjawab “Ini kan rumah kamu juga, Sa. Katanya rumah kedua, ngapain aku bukain pintu. Kalo Noel yang dateng tuh, baru deh aku bukain pintu.” jawaban macam itu biasanya direspon Asa dengan menggeplak kepala Kara. Hari ini berbeda. Kara membukakan pintu pagar (Asa shock), langsung menyerahkan milkshake coklat buatannya (sudah jadi favorit Asa selama bertahun-tahun) dan mengajaknya duduk di gazebo di halaman rumah Kara (Asa makin shock. Biasanya dia dan Kara akan ‘melantai’ di teras depan rumah). Kara terus-terusan tersenyum dan Asa menenggak milkshake-nya perlahan, agak-agak takut dengan ekspresi wajah Kara.
“Ra, ada apa sih?” tanya Asa.
“Aku mau ke Seventy-two nanti malem Sa!” Kara nyaris melompat ketika mengucapkan hal itu. Kedengarannya dia sudah memendam ini sejak menelepon Asa tadi, tapi bertahan sampai cowok itu secara fisik ada di depan matanya.
Asa terdiam sebentar. “Seventy-two?” ulangnya. “Itu bukannya…”
“Iya, iya! Tempat clubbing baru itu loh..”
“Emangnya kamu…”
“Emang belom, makanya sekarang mau nyoba..”
“Bukannya kamu...”
“Aku emang pernah bilang nggak suka ke tempat kayak gitu, tapi itu kan mungkin karena aku juga belom pernah main ke tempat begituan Sa. Siapa tau asyik.” celoteh Kara.
Asa mengerutkan keningnya. Main? “Besok kan sekolah, Ra. Mau sama siapa kamu ke sana?” tanya Asa.
Semburat warna merah muncul di kedua pipi Kara yang berkulit terang dan Asa semakin tertegun dibuatnya. Apa-apaan nih.
“Pergi sama Adry.” kata Kara.
“Adry?”
“Iya Adry.”
“....Adry.” Asa seperti berucap pada dirinya sendiri, tidak yakin.
“Duh, Sa..!” Kara gemes. “Adry temen basket kamu itu loh! Udah seminggu ini aku SMS-an sama dia.” kata Kara sambil (lagi-lagi) tersenyum.

Heh? Padahal baru bulan lalu patah hati sama Noel. Dasar Kara. Patah satu tumbuh sejuta.

“Kok bisa?” tanya Asa bingung.
“Loh? Bukannya kamu yang ngasih nomer aku?”
“Nggak.” Asa menjawab cepat.
“Kata Adry kamu yang ngasih kok. Aku kira kamu yang nyuruh dia sms-in aku biar cepet lupa sama Noel.”
Asa memejamkan matanya, berusaha mengingat-ingat. Tapi cowok itu yakin betul bukan dirinya yang memberikan nomor Kara pada playboy cap kakap SMA Bangsa itu. Asa sensitif dengan issue memberikan nomor HP Kara pada orang lain, terutama karena sejak mereka menginjak semester ke dua bulan lalu, semakin banyak saja cowok yang menanyakan nomor HP sahabatnya itu dan berdasarkan pendapat Asa semuanya tidak bisa dipercaya. Asa sendiri kurang mengerti. Tiba-tiba saja dia jadi overprotective pada Kara. Tiba-tiba saja Kara seperti menarik semua orang.
“Eh, Sa. Daripada mikirin itu, liat nih, aku bagusan pake baju yang mana ya?” Kara mengangkat dua buah baju yang kedua-duanya sama-sama kelihatan menyebalkan di mata Asa.
“Ra, mendingan kamu jangan pergi deh.” Kata Asa.
Senyum Kara memudar perlahan. “Kenapa?”
“Perasaan aku nggak enak.”
Kara menggeplak kepala Asa. “Temennya mau pergi malah disumpahin.”kata Kara.
“Loh, aku nggak nyumpahin. Aku kan cuma bilang perasaan aku nggak enak, Ra.”
“Kenapa sih, kamu sama Kevin sama aja deh.” Kara menarik gelas milkshake Asa yang sudah kosong dan berjalan ke arah rumahnya. Asa mengikutinya dan Kara masih terus mengomel. “Kevin juga sama nggak senengnya kayak kamu waktu aku bilang mau ke seventy-two sama Adry.”
“Soalnya kakakmu itu juga ada feeling nggak enak sama kayak aku.” kata Asa.
Kara dan Asa sudah sampai di dapur sekarang dan cewek itu setengah melempar gelasnya ke bak cucian piring. “Sa, kenapa sih kok kayanya kamu bawel banget tahu aku mau jalan sama Adry?” Kara menyalakan air dan mulai mencuci gelas. “Lagian bukannya Adry itu temen kamu??” kening Kara berkerut. Gadis itu tidak bisa menahan nada suaranya agar tidak meninggi sekarang.
“Justru karena Adry itu temen aku, Ra.” Asa kalem. “Auranya nggak bagus.” kata Asa sambil mengoper mangkuk berisi sabun cuci piring ke tangan Kara.
Kara hampir saja menjatuhkan gelasnya. Setengahnya mau ketawa mendengar kalimat terakhir Asa, setengahnya lagi masih merasa kesal pada sobatnya itu. “Emang kamu cenayang, bisa baca aura?”
“Pokoknya kamu jangan terlalu cepet percaya lah Ra. Perasaan aku beneran nggak enak.” kata Asa. Asa memperhatikan Kara yang kini tengah mengeringkan gelasnya. Tiga tahun yang lalu, cewek ini nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Pecicilan, ribut, sukanya lari-larian di koridor atau lapangan sekolah, sama sekali nggak ada unsur feminin, menurut Asa. Tapi sekarang Kara tumbuh, dan Kara yang berdiri di sebelahnya sekarang sama sekali berbeda dengan Kara tiga tahun—

“Emangnya nggak aneh?” tanya Kara. “Nggak kayak anak kecil?”
Asa menggeleng. “Menurut aku sih nggak.”
Kara bingung. “Kenapa?”

Asa terdiam sejenak. Memori tentang percakapan itu lagi. Tapi sama seperti waktu dirinya baru terbangun tadi, rasanya ada potongan penting dari percakapan itu yang justru tidak diingatnya. Asa baru ingat akan menanyakan perihal percakapan mereka tiga tahun yang lalu itu pada Kara ketika cewek itu menyenggol Asa pelan. “Aku mesti siap-siap, Sa.” Untuk sesaat, mata mereka bertemu dan tidak ada yang mengatakan apa-apa. “Ra, kalo kamu segitu pengennya ngeliat seventy-seven..—“
seventy-two.” koreksi Kara secara otomatis.
“Iya, apa lah namanya. Nanti aku temenin kamu ke sana deh Ra, bareng Kevin juga.”
“AKU NGGAK MAU KE SANA SAMA KAMU APALAGI KEVIN. Sa, kapan aku bisa punya cowok kalo kamu nempel terus ke aku!??” Jauh di hati Kara, gadis itu sadar dia salah. Sadar ucapan kerasnya melukai Asa. Tapi saat ini Kara terlalu keraskepala untuk mengakui semua itu dan dia tidak ingin minta maaf pada Asa.
Asa mundur setengah langkah saat mendengar teriakan Kara. Hatinya marah mendengar ucapan Kara tapi otaknya belum memproses itu semua dengan sempurna hingga Asa hanya bisa diam, speechless dengan hal itu. Tapi akhirnya, rasionalnya memenangkan pertarungan antara otak-hati itu. Maka di luar dugaan Kara, Asa menyentuh dagu sahabatnya itu dengan pelan.
“Maaf ya, Ra.” Asa tersenyum pahit, dan seribu jarum rasanya langsung menusuk tubuh Kara. “Maaf aku nggak sadar kalo jadi halangan buat kamu punya hubungan yang lebih dalem sama cowok lain.”
Mata Kara berkaca-kaca. Bukan masalah menang atau kalah, bukan masalah gengsi untuk minta maaf. Rasanya sakit melihat Asa tersenyum seperti itu, melihat Asa bicara tetap dengan nada yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan Kara saat marah. Itu yang sedang Asa lakukan. Meredam emosinya.
“Aku pulang ya Ra. Thanks milkshake nya.”
***
Saat berjalan pulang, Asa mengeluarkan handphone nya dan melihat jam. Sudah hampir pukul enam. Ketika langkahnya hampir mencapai lapangan basket di dekat rumah, Asa mendengar suara bola basket yang memantul-mantul dan teriakan beberapa orang.
“ASAA!!!” lima suara kompakan memanggilnya. Asa berjalan ke arah lapangan basket dan melihat teman-teman basketnya komplit ada di sana. Radit, Reno, Tommy, Irvan dan Hendra. Semuanya berada di sekolah yang berbeda sekarang. Melihat mereka semua berkumpul, Asa
nyengir lebar dan akhirnya berlari, bergabung bersama teman-temannya dan mulai bermain basket.
Stay safe, bestie.

“Gue kira lo di rumah Kara, Sa.” kata Radit setelah hampir satu jam mereka bermain.
“Iya, tapi cuma sebentar. Orangnya mau pergi.” Asa asyik mendribel bola basket.
“Loe masih sama Kara, Sa?” Reno melempar botol minum ke arah Radit.
“Masih apanya?” tanya Asa masih sambil mendribel bola basketnya.
“Masih pacaran, lah.” timpal Tommy.
“Gue nggak..—“
“Mana mau ngaku dia.” Irvan tertawa sambil merebut bola dari tangan Asa dengan satu gerakan cepat.
“Ouch!!” Asa mengibas-ngibaskan tangannya ketika Irvan merebut bola. Jari kelingkingnya sakit sekali. Rasanya seperti terserang kram tiba-tiba.
Anak-anak masih terus tertawa dan membuat jokes atas hubungan Asa-Kara yang menurut mereka aneh dan tidak wajar. Awalnya Asa masih menanggapi keempat temannya itu, tapi lama-lama dia sudah tidak terlalu bersusah payah untuk itu, karena sama saja, nanti mereka bakal ribut lagi ngecengin dirinya. Asa duduk bersama mereka dan bermain dua round basket lagi sebelum akhirnya, kelelahan, penuh keringat dan haus, kelimanya memutuskan untuk menyudahi game mereka hari itu dan pulang ke rumah masing-masing. Asa berjalan bersama Radit, karena rumah mereka satu arah. Di belokan pertama Radit menggeplak kepalanya, mengucapkan sampai jumpa dan berjalan lurus menuju rumahnya. Rumah Asa sendiri terletak persis sebelum belokan itu sehingga dalam satu menit cowok itu sudah membuka pintu pagarnya. Mobil ayahnya sudah terparkir dengan mulus di garasi dan Asa jadi heran sendiri, memangnya sudah jam berapa sih ini.
“Darimana, De?” Ayahnya bertanya begitu kepala Asa menyembul di pintu.
“Basket Pa. Radit lagi balik.” jawab Asa. Asa melirik jam dinding di ruang keluarga, sudah jam sembilan malam. Asa tersenyum sendiri. Ngapain aja sih dia sama bocah-bocah berandalan itu tadi sampai jam segini.
“Kamu kok malah senyum-senyum sendiri gitu ngeliat jam.” Ibu mucul sambil membawakan kopi untuk ayahnya. “Mandi, De. Bau keringet.” kata Ibu. Asa mengangguk setuju dan langsung masuk ke kamar mandi, sadar betul badannya full keringat dan debu. Pikiran Asa sempat melayang sesaat pada Kara, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan si bawel itu saat ini. Tapi Asa menepis jauh-jauh pikiran dan keinginan untuk menghubungi sahabatnya itu. Biarlah, toh Kara juga sedang bersenang-senang, pikir Asa.
***
19.00,
Rumah Kara
Mobil sedan silver berhenti di depan rumah Kara, membunyikan klaksonnya sekali dan Kara langsung keluar. Di belakangnya Kevin dengan sebal dan setengah hati merelakan adiknya keluar, sambil ngedumel yang pura-pura tidak di dengar oleh Kara.
Adry membukakan pintu untuk Kara layaknya gentlemen sejati, melambai pada Kevin dan masuk ke mobil. Beberapa saat kemudian mereka sudah meluncur pergi.
“Dry, ini nggak kepagian kita berangkat jam segini?” tanya Kara.
“Nggak Ra, soalnya mesti jemput Michelle, Audry sama Mario dulu. Nggak apa-apa kan?” Adry memasang wajah bersalah, karena sebelumnya lupa memberitahu soal teman-temannya yang mau nebeng mobilnya ini.
“Nggak masalah.” kata Kara riang. “The more the merrier.”

Sesampainya di jalan tol, Adry memacu mobilnya dengan kecepatan
tinggi, hingga Kara secara refleks memegang safety belt nya, memastikan benda itu dengan aman terpasang melindungi tubuhnya. Adry nyengir, dan Kara heran, cengiran model Asa dan Adry tampak sangat jauh berbeda. Kara memejamkan matanya sekarang.
“Takut, Ra?” tanya Adry.
“Takut.” jawab Kara jujur. “Nggak bisa pelan aja jalannya, Dry?” tanya Kara.
Adry melambatkan lanju mobilnya dan Kara kini bisa membuka matanya. “Gue seneng bawa mobil kenceng-kenceng, Ra. Sorry ya kalo bikin lo takut.” kata Adry menggenggam pelan kepalan tangan Kara.
“Lo mau jadi pembalap, Dry?” tanya Kara, tangannya dingin dalam genggaman Adry. Lebih ke arah takut karena kecepatan mobil, bukan dag dig dug tangannya dipegang oleh seorang Adry.
Adry tertawa dengan keras, terlalu keras menurut Kara. “Nggak lah, Ra. Gue mau punya bisnis sendiri, pekerjaan yang nggak konyol dan beneran bikin uang.”
“Kenapa jadi pembalap konyol? Gue mau jadi astronot.”
Adry kini menoleh dari jalan dan menatapi gadis yang duduk dengan manis di sebelahnya. Cantik, pikir Adry. Bagus untuk dipamerin kemana-mana, tapi omongannya masih konyol, sekonyol sahabatnya di rumah.
“Dry, jangan liatin gue, liat jalan tuh, jalan.” Kara panik karena tanpa sadar Adry kini sudah menginjak pedal gas lebih dalam sambil menatapi dirinya, bukan menatapi jalan, seperti yang dilakukan orang normal kalau sedang melaju dengan jarum speedometer menunjuk angka 130.
Adry sekarang tertawa lebih keras, telinga Kara sampai sakit. Sekarang Kara resmi sangat tidak menyukai manusia satu ini. Heran, kenapa dia bisa bertahan selama satu minggu SMS-an sama orang ini?
“Astronot, Ra? Konyol banget! HAHAHAHHA..—“
“ADRYY!!” Kara berteriak. Lalu benturan keras. Bunyi yang lebih memekakkan telinga daripada tawa Adry. Lalu gelap.

Samar-samar, Kara mendengar banyak bunyi lainnya. Bunyi rem, bunyi
banyak pintu dibuka, suara orang-orang. Kara tidak terlalu bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi kedengarannya gawat.
“Asa...” panggil Kara pelan, begitu pelan sampai Kara tidak yakin dia bisa mendengar suaranya sendiri.

Sebuah suara terdengar di telinganya. Suara yang menyebalkan.
“Astronot, Ra? Konyol banget! HAHAHAHHA..—“

Lalu, suara yang lain. Kara cukup yakin kalau yang ini adalah

suaranya sendiri.
“Cita-cita aku jadi astronot.” Kara duduk di sebelah Asa dan memasang wajah serius.
Asa menoleh menatapnya. “Jadi astronot? Kenapa?”
Kara tersenyum. “Soalnya kalau jadi astronot aku bisa meluk bintang, Sa.”
Asa tersenyum. “Pasti asyik.”
“Emangnya nggak aneh?” tanya Kara. “Nggak kayak anak kecil?”
Asa menggeleng. “Menurut aku sih nggak.”
Kara bingung. “Kenapa?”
“Iya, soalnya—“

Kara memejamkan matanya. Suara-suara di sekitarnya mulai tak terdengar. Soalnya apa, Sa?
***
Asa berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Jantungnya berdebar-debar memukul dadanya hingga rasanya nyeri sekali.
‘Adry sialan.’ Asa sudah mengumpat seperti itu berulang-ulang kali, mulai dari keluar rumah, di perjalanan, sampai hingga akhirnya ia ada di rumah sakit sekarang. Dengan mudah Asa mengenali sosok Oom Khrisna dan Kevin di depan salah satu ruangan.
“Oom, Vin.” Asa menyapa mereka. Wajah keduanya tampak tenang saat ini.
“Jari kelingking kanannya patah, selain itu dia nggak apa-apa.” Kevin memberi pengumuman, getaran dalam suaranya meyakinkan Asa cowok itu sedang menahan marah. Asa kemudian memandangi jari kelingkingnya sendiri, teringat serangan kram yang tiba-tiba terasa saat main basket tadi. Nggak mungkin, pikir Asa. Memangnya mereka apa, anak kembar?
Oom Khrisna meletakkan tangannya di bahu Asa. “Asa, bisa titip Kara sebentar? Oom mau bicara sama orangtuanya Adry.” Asa memandangi Oom Khrisna. Guratan lelah tampak jelas di wajahnya yang terbingkai rambut yang mulai beruban dan kacamata frameless yang bertengger di wajahnya, sentuhan Kara yang membuat ayahnya tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya
“Iya, Sa. Gue juga mau ngomong.”
“Kevin.” Nada suara Oom Khrisna terdengar memperingatkan.
“Tenang Pa, Kevin nggak bakalan nonjok orang kok.” kata Kevin. “Paling nyentil aja..—“ Kevin berhenti saat menangkap pandangan ayahnya dan kemudian berjalan dalam diam mengikuti ayahnya ke arah lift di ujung koridor. Dalam situasi biasa, Asa akan menganggap ini hal yang lucu. Dalam situasi saat ini, sense of humor Asa terputus sepenuhnya. Begitu Oom Khrisna dan Kevin menghilang di balik lift, cowok itu langsung membuka pintu kamar Kara.

Kara tampaknya tertidur, ada beberapa luka di wajah dan tangannya.
Namun lebih dari itu, seperti kata Kevin, sahabatnya itu tampak baik-baik saja. Asa menarik kursi sepelan mungkin dan duduk di sebelah Kara. Kalau dalam keadaan diam dan nggak bawel seperti ini, Kara betul-betul kelihatan seperti seorang putri.
“Papa?” Kara membuka mata perlahan, dan tersenyum saat justru wajah Asa yang ada di sana.
“Asa?” ralat Kara.
Asa tersenyum. “Halo bawel.”
Kara mencoba memperbaiki posisi tidurnya, tapi itu membuat seluruh badannya sakit, jadi gadis itu berhenti. “Maaf ya Asa.” kata Kara.
“Untuk?” tanya Asa.
“Nggak dengerin kamu.”
“Emang sejak kapan juga kamu dengerin aku?” Asa tersenyum ramah dan Kara lega melihatnya. Hal terakhir yang dibutuhkannya saat ini adalah diomelin Asa.
“Sa, aku tadi mikir.” Kara kini menatap mata Asa. “Aku masih pengen meluk bintang loh.”
Asa tertegun. Memeluk bintang. Itu potongan memori yang hilang dari percakapan tiga tahun lalu yang entah kenapa terus-terusan hinggap di benaknya sepanjang hari ini. Bagaimana hal itu bisa tiba-tiba diucapkan Kara sekarang, Asa tidak terlalu tahu. Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli juga soal itu.
“Pasti asyik.” kata Asa. Yang membuat Asa heran, dia mengucapkan kalimat sesederhana itu dengan rasa damai yang luar biasa mengisi hatinya.
Ganti Kara yang tertegun. “Emang nggak aneh? Nggak kayak anak kecil?”
Asa menggeleng. “Menurut aku sih nggak.”
Kara tersenyum amat lembut dan Asa hampir saja menunduk untuk mencium gadis itu saat melihat ekspresi lembut mewarnai wajah sahabatnya. “Kenapa?” tanya Kara.
Asa menarik nafas. “Iya, soalnya kalo kamu meluk bintang, aku pasti ada di sebelah kamu. Lagian, kamu kan butuh orang yang bisa bikinin alat supaya kamu bisa meluk bintang, Ra.”
“Itu beneran percakapan anak kecil yah?” tanya Kara, sekarang merasa luar biasa mengantuk.
“Nggak juga, Ra. Buktinya kita udah SMA dan masih ngomongin itu kok.” jawab Asa.
“Kalo....kamu....berubah pikiran...terus... nggak mau lagi.....” ucapan Kara terputus dan gadis itu memejamkan matanya.
Asa berdiri dan menarik selimut lebih rapat menutupi Kara. “Tenang, kita peluk bintangnya sama-sama.”
Kara sudah tidak terlalu mendengarkan. Suara Asa terlalu lembut, AC di kamarnya terlalu sejuk, selimutnya terlalu hangat dan wangi badan Asa yang ada di sebelahnya terlalu enak hingga usaha Kara untuk tetap membuka mata rasanya sia-sia saja. Kara bahkan sudah benar-benar terlelap saat Asa membisikkan ucapan selamat malam padanya. Hal terakhir yang diingat Kara sebelum tidur hanyalah ada Asa di sebelahnya, di luar sana mungkin Kevin sedang berusaha menonjok Adry dan ayahnya besok pagi akan berusaha menyelundupkan zuppa soup favoritnya, dan ya, besok pagi akan ada Asa di sini.

Lalu semuanya akan baik-baik saja.

Wednesday, December 22, 2010

Apa yang membuat kamu BESAR?



Berikut adalah cerita tentang 'kebesaran' yang saya dapat tadi pagi dari salah seorang pemimpin ibadah. Apa yang membuat kamu BESAR?

***

Suatu hari di sekolah taman kanak-kanak dengan keceriaan anak-anak kecil yang masih polos. Kelas yang kecil tapi ceria dan terlihat ramai dengan hiasan gambar-gambar hewan di tembok kelas, hiasan kerajinan tangan yang bentuknya tidak tapi lucu, dan lainnya. Ibu guru mulai memasuki ruangan kelas dan mulai mengajar dengan kesederhanaan. Ibu guru bertanya kepada anak-anak tk tersebut yang masih polos.

"Anak-anak, apa yang membuat kamu besar?"

Kemudian anak-anak tk tersebut langsung berteriak spontan setelah melihat banyak gambar-gambar hewan yang ada di tembok kelas.

"Gajah, bu!!"

"Kupu-kupu, bu!!"

"Zeblaaaa, bu!!" *maksudnya zebra.

"Panda, bu!!"

Dan banyak hewan-hewan yang disebutkan lainnya. Ga nyambung memang dengan jawaban yang ditanyakan si guru itu sendiri. Tapi karena anak-anak dengan kespontanan dan kepolosan nereka menjawab seperti itu. Suasana kelas menjadi gaduh. Tapi ibu guru melihat ada 1 anak perempuan yang berbeda, ia tidak spontan menjawab pertanyaan, tapi ia hanya diam daritadi dan hanya duduk. Lalu ibu guru meghampiri si anak, Jessica.

"Jessica, kenapa kamu diam?" Ibu guru menunduk sambil tersenyum melihat wajah Jessica.

"Apa yang membuat kamu besar, Jessica?" Ibu guru bertanya lagi.

"Ngg..yang membuat aku besar adalah ibu." Jessica berbisik pelan.

"Kenapa?" Ibu guru bertanya penasaran.

"Karena ibu selalu datang setiap malam ke kamarku dan bilang 'aku sayang kamu'. Aku sayang ibu. Ibu yang tiap hari suapin aku, ibu yang selalu ajak aku main, ibu yang selalu ajarin aku membaca dan menghitung, ibu yang selalu mandiin aku. Semuanya ibu!" Jessica menjelaskan panjang lebar dengan kepolosan sambil tersenyum.

Ibu guru tersenyum, "Iya Jessica, Ibu kamu BESAR dan itu membuat kamu bisa BESAR seperti ini."

***

Apa yang kamu dapat dari cerita pendek tadi? Ternyata 'kebesaran' itu adalah kasih sayang dari seseorang kepada yang lainnya. Entah itu kasih seorang ibu, kasih seorang ayah, kasih seorang saudara, dan bisa saja kasih orang asing yang memberikan tumpangan di saat kita tak punya rumah, ban mobil kita bocor, atau semua orang yang punya 'kebesaran' itu.

Apakah kamu sudah memberikan 'kebesaran' kamu kepada orang lain?
Apakah kamu sudah memberikan kasih kepada orang lain?
Apakah kamu sudah mengucapkan 'aku sayang kamu' kepada orang yang kamu sayangi dengan tulus?

For all mothers in the world, "Happy Mothers Day!" :)


Sepucuk Surat untuk Ibu

Halo Ibu,

Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak mengobrol.. Apa kabar Ibu disana? Semoga kabar Ibu baik-baik, kabarku disini juga baik-baik saja.

Ibu, apakah Ibu sehat? Aku selalu kuatir jika Ibu mengalami sakit apapun disana. Beberapa malam yang lalu aku memimpikan Ibu. Di mimpi itu aku melihat kita berdua sedang berjalan beriringan di tepi pantai. Bermain air dan melemparkan pasir ke arah satu sama lain. Memang terkesan kekanak-kanakkan, tetapi sepertinya hal-hal kecil seperti itu yang aku rindukan dari Ibu.

Oh iya, sepertinya aku belum bercerita banyak tentang hidupku sekarang. Kabarku disini baik-baik saja, demikian juga kabar Ayah. Kami sudah tinggal di sebuah apartemen kecil, Bu, berbeda jauh dari rumah besar yang dulu sempat kutinggali bersama-sama Ibu. Ayah masih bekerja di perusahaan kontraktor itu, dengan gaji yang sama pula. Kami menjalani hidup yang hampir sama sejak terakhir kali aku melihat Ibu. Satu hal yang berbeda, aku sudah tumbuh dewasa. Dulu terakhir kali aku melihat Ibu sekitar umur berapa Bu - 13 tahun? Sekarang aku sudah berusia 19 tahun, dan aku berhasil sekolah di universitas yang Ibu idam-idamkan, juga dengan jurusan yang Ibu idam-idamkan. Rasanya ada perasaan bangga mengetahui bahwa aku mampu mewujudkan mimpi Ibu.

Bu, aku rindu sama Ibu. Kapan aku bisa ketemu Ibu lagi? Aku rindu Ibu yang selalu menggedor-gedor kamarku setiap pagi, menyuruhku untuk bangun dan pergi ke sekolah. Sekarang sahabat yang selalu membangunkanku setiap pagi cuma alarm yang bunyinya itu-itu saja. Aku rindu nasi goreng kampung yang selalu Ibu masak setiap pagi, kadang-kadang ditambah sosis. Ayah tidak bisa membuat nasi goreng kampung seenak buatan Ibu. Aku rindu SMS-SMS dari Ibu yang menanyakan apakah aku akan pulang malam, atau apakah aku butuh sesuatu, dan aku sangat menyesal mengapa aku hanya membalas SMS perhatian itu dengan satu kata: entah "Ya" atau "Tidak". Betapa inginnya aku menjawab SMS dari Ibu dengan sama perhatiannya seperti Ibu meng-SMS-ku. Yang paling penting? Aku rindu nasihat-nasihat dari Ibu. Walaupun aku merasakan perasaan yang sama seperti anak-anak remaja pada umumnya - bosan, kesal, menganggap Ibu ketinggalan jaman - namun aku sekarang merasakan bahwa kata-kata Ibu tidak pernah lekang dimakan waktu. Aku ingat pesan Ibu yang mengatakan bahwa jadi perempuan harus punya harga diri. Itu sangat membentukku menjadi aku yang sekarang ini.

Aku rindu Ibu. Aku harap Ibu bisa membalas suratku ini. Atau paling tidak, muncullah di mimpiku, Bu. Berikan aku tanda bahwa Ibu masih menyayangiku dan masih memikirkanku di hari-hari Ibu. Aku tunggu jawaban dari Ibu.

Salam hangat,
Helena.




Helena meletakkan surat itu di 'kotak pos', lalu beranjak pulang. Tertulis di depan amplop surat itu:

Kepada,
Ibu di Surga.



Forever yours, Judy Wilhelmina

Sunday, December 12, 2010

Email Somat ke Ngkong Sinterklas

Assalamualaikum Ngkong Sinterklas,

Salam Ngkong, apa kabarnye nih Ngkong? Moga-moga Ngkong kagak lupa sama anak Betawi kesayangan Ngkong, Somat. Sekarang Somat lagi di Singapura nih Ngkong, ngelanjutin sekolah aye disini. Alhamdullillah Nyak sama Babe masih bisa nyekolahin aye sama adek aye, apalagi sampe keluar negeri, Ngkong.

Si Ijul temen aye nyang Natalan kemarin ngobrol sama aye lewat komputer. Sekarang Ijul noh sekolah di Kanada. Canggih bener dah hari gini Ngkong, segala macem ade, segala macem bisa. Si Ijul katanya udah malu ngirim surat ke Ngkong Sinterklas, "Udah gede sekarang kita Mat, kagak perlu lagi nulis-nulis surat ke Sinterklas... Lu ape kagak malu?" Enggak kok Ngkong, aye ga malu, kalo-kalo aye udah kagak boleh lagi minta kado natal, aye mau jaga silahturahim aje sama Ngkong gitu. Kan anak soleh ya soleh aje kan Ngkong.

Aye sekarang tinggal ade ngontrak rumah sama temen-temen ane nyang baru. Orang kelingnya ada 3, sama orang dari Vietnam ade juga ntu. Ngkong tenang aje, aye anak Betawi yang inget sama pesen Nyak Babe aye, harus rukun, baik sama orang, rajin ngaji sama ga boleh lupa maen pukulan.

Jujur aje aye memang nulis mau minta kado natal sama Ngkong, Peci nyang dulu ngkong bawain udah buluk, emang namanye ntu barang udah bangkotan, kira-kira aye boleh minta peci baru Ngkong? Aye ga mau minta banyak-banyak sama Ngkong, soalnya malu juga inget sama umur aye. Hehe.

Tapi gini Ngkong, aye mau minta tolong sama Ngkong, tapi ntu kalo kagak ngerepotin Ngkong aje. Sejak aye belajar bisnis di sini, aye udah ngerti kalo segala barang kagak ade nyang gratis atau obralan, jadi ntar Ngkong pasti bakalan capek, ntar aye kasih suguhan disini pas mau nganter hadiah aye! Ngkong, ini bukan aye mau nyogok lho, aye cuman mau kasih Ngkong timbal balik aje, Ngkong entar nganterin hadiah-hadiah buat Nyak sama Babe aye nyang di Jakarte, ama temen-temen aye nyang lagi ngerantau nyari ilmu... Terus aye suguhin nasi goreng kambing nyang aye masak sendiri, sama bikinin susu jahe sama madu nyang anget, biar Ngkong ntar mau narik dokar terbangnya udah seger!

Ade si Ijul noh di Kanada, trus ade si Budi temen aye nyang natalan juga. Dia pindah ke Jogja tadinya tinggal deket rumah aye, ade Ncingnye nyang kerja di Keraton dulu, dipanggil lagi sekarang katanye ade rapat besar istana. Aye kagak ngarti dah. Terus ada si Minah nyang masih di Jakarte. Kesian dia kagak sekolah lagi aye denger terakhir kabarnya dari Budi, sekarang bantuin mpoknye jaga warung...

Terus ade juga si Nana nyang pindah ke Australi. Temen-temen aye pada jauh Ngkong, kangen aye mainan gobak sodor ame mereka, saban hari berangkat bebarengan ke sekolahan, ngeliat si Budi kalo lagi ngejar layangan... Demen banget tuh anak ngejublag terus nangis... Udah aye bilangin mangkannye jangan ngunyah mulu kerjaan.

Itu nyang dibungkus di meja makan aye ya Ngkong, nyang rada gede bungkusannye itu buat Nyak-Babe aye, terus nyang biru itu buat adek aye, aye beliin pakean buat die, biar makin cantik gitu.

Nyang bungkusnya merah itu buat Ijul, Ijo buat Budi, jingga buat Minah, ame nyang ungu buat Nana. Barangnya kecil-kecil Ngkong, buat Ijul aye beliin sarung tenun bagus biar die kagak lupa kalau die anak Betawi.

Buat Budi aye beliin kue-kue biskuit nyang 'low fat' ama keripik singkong nyang aye goreng sendiri, modal gula garem doang ama singkongnya ada kebon nganggur deket kontrakan aye. Tenang Ngkong! Aye kagak nyolong, ntu aye udah bilang 'assalamualaikum' tiga kali kagak ade nyang jawab, aye permisi masuk terus minta ijin ama penghuni situ sapa-sapa tau ada nyang nangkring kan.

Buat Minah aye beliin ada nih boneka kucing nyang tanganya bisa ngayun-ngayun maju mundur Ngkong, lucu bener dah ini kucing. Dulu si Minah soalnya punya kucing juga demen bener nyaut-nyautin gangsingan ane, ini bonekanya mirip kucingnya Minah. Orang Tionghoa sini demen banget majang boneka ginian depan rumah ame dagangan, apa kagak takut dicolong ye?

Untuk si Nana nyang di Australi aye beliin buku Ngkong, dia suka bener baca buku nopel. Ini aye beliin ini nopel lagi ngetop banget kagak tau kenape, ceritanye cinta segitige Ngkong. Ada ini cewek nyang naksir banget ama atu laki nyang kalo aye pikir mirip jenglot, ngisep darah. Tapi ini anak perempuan juga naksir ama atu lagi laki nyang kayaknya anjing jadi-jadian . Tapi ngetop banget disini Ngkong, jadi aye beliin buat Nana.

Aye cuman harap mereka suka same hadiah nyang aye, ini aye ga minta duit siapa-siapa buat beliin kado natal, aye sisih uang jajan aye jadi bisa beli kado. Inget-inget sama pesen Babe aye: "Mat, ntaran lu udah jadi orang gede, kerjanya gedongan, elu kagak boleh lupa ame temen-temenlu. Kudu inget silahturrahmi sama mereka, kali-kali lu ada rejeki lebih juga kagak boleh lupa dibagi-bagi." Jadi aye cuman ngejalanin amanat orangtua aye.

Ngkong, kontrakan aye kagak ade cerobong asepnya. Ntu kalau Ngkong mau parkir ntu dokar terbang diatap bisa sih, tapi kayaknye Ngkong parkir di lapangan bola belakang aje, hukum negara sini matre Ngkong, salah-salah Ngkong didenda ntar berabe.

Oh iye, Ngkong kalau mau nasi gorengnya pake telor, dibales ya Ngkong surat aye, biar aye siapin telornye mau digoreng ato didadar gitu. Maaf ye Ngkong kalo surat aye rada panjang, kan udah kagak pake kertas lagi soalnye.

Bujubuneng aye ampir aje lupa! Astaghfirullah, ntar takut ngkong nyasar, kontrakan aye aye pasang lampu petromak ya Ngkong! Aye cantolin di jendela aye aje.



Wassalam, anak Betawi kesayangan Ngkong

Somat.

Saturday, December 4, 2010

We Never Talk Because We Never Tried.

Apa yang salah dengan mencoba untuk bicara setelah berpisah sekian lama?

Mencoba untuk berteman lagi, itu bukan dosa. Bukan sesuatu yang bisa meruntuhkan ego yang super tinggi, bukan aib yang enggan untuk dibuka ke khalayak luas. Mencoba untuk memulai lagi sebagai teman bukanlah hal yang salah. Menurutku, itu adalah hal yang paling benar.

Pernahkah kamu merasa kehilangan seseorang yang sangat menyakitkan? Bukan hanya mengetahui kenyataan bahwa dia tidak akan ada lagi untukmu, tapi juga harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa dia tidak akan mau merajut kembali hubungan baik denganmu, bahkan berbicara denganmu saja dia enggan.

Hal itu terasa seperti kehilangan dua hal yang sangat penting dalam hidup: kehilangan seseorang yang dikasihi dan kehilangan seorang sahabat. Apalagi jika kalian berangkat dari sepasang sahabat yang menghargai satu sama lain. Dan sekarang kalian tidak bisa kembali bercanda, tertawa bersama-sama, atau mencurahkan kegalauan hati masing-masing. Tidak bisa. Hal itu sangat menyakitkan.

Aku bukanlah perempuan yang mempunyai maksud tersembunyi. Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang perempuan yang bisa mempunyai maksud tersembunyi dari semua tindakannya. Masa dia tidak bisa melihat keinginan asliku, bahwa kini aku hanya ingin menjadi seorang teman? Seorang teman yang benar-benar bisa tertawa, bisa tersenyum, bukan seorang teman - sebuah kata yang hanya sekedar basa-basi, mengingat dia tidak pernah menganggapku sebagai teman. Apalagi sebagai sahabat.

Katanya, seseorang akan mencoba kembali untuk berbicara dengan mantan pasangannya jika dia sudah benar-benar bisa melanjutkan hidup. Jika dia sudah bisa menemukan orang lain yang bisa mengisi hari-harinya. Jika dia sudah benar-benar yakin bahwa dia tidak akan jatuh cinta lagi dengan mantan pasangannya. Sudah setahun lebih, sudah ada orang-orang lain, namun kami tetap tidak bisa berbicara.

Andai saja kita berani mencoba. Mencoba untuk sekedar bicara.