Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Monday, August 30, 2010

Death


Death, is a very sensitive subject to talk about, but then death itself plays a crucial role
In our lives.

This note is dedicated to those who have lost their loved ones,
Back then, not so long ago, recently, and presently.
I do not mean to offend anyone or to put salt in anybody’s wounds,
This note merely offers you another point of view upon death.
To start, let’s look upon facts on death:
- In this earth, as each second a human is being born, another passes away.

- A priest-doctor (Which was a priest, and also a doctor… duh), once tried to investigate how much a soul of a human weighs. So he successfully devised a bed-scale (Which was a bed, and also a scale…wow!) and put a dying person on it (Don’t ask me who or how). Three hours after the person died, the body became heavier by 0.3 pounds (about 0.13 kg) which was then believed, to be the weight of a person’s soul. It’s fantastic eh? I mean, by just that 0.3 pounds that God gave us, look at what we are capable of doing!

- “Death would be another adventure!” As Peter Pan would put it. We can relate this to many ancient and some present believes. As a person dies, they are to cross this world into the next, and well… there are many versions on what happens next.

- One of the funniest deaths recorded was in the early 1880s, where cars where first invented. You see, back in the day, they don’t have those magical glow sticks, which emit light we call now: flashlights. So a guy decided to take his car for a spin the night, then suddenly his car engine died. He opened his car’s hood, and by having no flashlight, he used a match to create light. He opened the fuel tank… and Whoopsie! Dropped the match in the fuel tank…

- Lady Diana the Fair, Mother Theresa the Kind, Charlie Chaplin the Funny, Adolf Hitler the Fuhrer, Elvis Presley the King, Bruce Lee the Dragon, even Chris Farley the Hilarious died.

People, everywhere, every time, in every way, die.

Let me simplify: Everybody Dies.

But doesn’t it feel good though? Come on, out of all the differences we have: Color, texture, size, shape, social status, money, power, looks and all. We humans, have one commonality, which we can relate together with as mortals: we die.

So having said that, who am I, who are you, to judge?
Who are you to say “I’m better than you”?
Then when we die, we close our eyes (hopefully with an open heart),
We go stiff, cold, and turn to dust. We are all the same!

There is a saying in Indonesia upon mourning: “Do not mourn and cry too much when a loved one passes, for doing so, burdens the departure of the passed one’s soul”
This saying can teach us to be strong. Move on, have courage!

Remember the person for the good deeds he/she has done, remember how the person inspires you, remember how the person played a role in your life

Another interesting observation: Death brings people together. A good friend of mine lost his brother not too long ago, and my friend’s parents were divorced. At the funeral ceremony, everybody was there. Brothers, step siblings, aunts, uncles, father, mother, cousins, were there to comfort and support each other.

This also I find profoundly interesting: When a priest, a leader in a group, a celebrity, or a ‘good’ figure passes away, sayings and prayers like this come out from people:

“Oh he was a man with a divine touch, may God deliver his soul to a beautiful place”
Or
“Oh she’ll go up there and sing with the angels”
Or
“May God be with him”

But, when a local thug, a murderer, a thief, a terrorist, or a ‘bad’ figure passes away, sayings and ‘prayers’ like this will come out from people:

“Oh he deserves to die”
Or
“Rot in hell”
Or
“That’s one ticket straight down there”

Seriously, if a person, or if you did say any of those stuff written above, or even did something worse, have you died? How did it feel? Where did you go? What did you see? WHO did you see?

Really, check your own records.

This may sound quite eccentric, but I somehow envy the dead. They don’t get to suffer more in this wretched world. I admit that I cried my eyes out when a loved one passed, but in the same time, I am really happy for them too. They don’t get to experience the global crisis (which also happens to deliver many deaths), they don’t get to feel that Jakarta gets crappier each day. They don’t get to worry how much they need to spend each day for food.

Be happy for those who left and always pray for their journey to the next realm.

Remember that death is a part of life. Everybody dies, it is just a matter of time. To also mention it is not about when you go, instead it is about how you go, and what legacy you left behind.

So that concludes this note on death.
Hopefully this note enlightens you by giving you another way to look perspective on life, and death itself.


Live Free my friends, Die Well.

Friday, July 16, 2010

Filosofi Nasi

Salam

Nasi putih, dikonsumsi oleh lebih dari 500 juta jiwa di Asia Tenggara sendiri.
Mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan
seterusnya.

Sebuah makanan dasar yang memenuhi kebutuhan karbohidrat kita, berwarna putih,
berbentuk lonjong yang imut mengundang selera makan, rasa nikmat memberi kepuasan
batin dan lahiriah. Tetap sedap jika dikonsumsi bersama lauk-pauk lain mulai dari tumis daging, sayur cah kangkung yang menggoda, telur goreng, tempe, tahu, bahkan sampai makanan mewah bak steak, babi panggang (maaf teman-teman muslim, tapi anda sekalian tahu bahwa saya sangat menyukai makanan yang mengandung babi), dan masih banyak lagi.
Nasi pun bisa dimasak sedemikian rupa menjadi sebuah santapan yang bisa dinikmati semua kalangan dimulai dari pemulung hingga presiden: nasi goreng, nasi kuning, nasi telur, nasi mentega, nasi gila, nasi kucing, dan masih banyak lagi.

Satu lagi kehebatan nasi yang saya berhasil pelajari sewaktu saya bertualang ke Jogjakarta bersama Ayah saya: Nasi, di manapun, kapanpun, dalam situasi apapun, bisa mengumpulkan sekelompok orang asing dalam sebuah meja makan dan melupakan perbedaan mereka dengan menikmati nasi dan makanan yang tersedia. Nasi itu hebat ya?
Tetapi, jika kita pikirkan bersama, sebutir nasi itu memiliki sebuah cerita tersendiri yang bisa kita ambil sebagai sebuah pelajaran hidup.

Semua itu dimulai dari tanaman padi... yang dipanen oleh para petani setelah menguning, dan dipukuli ke sebuah papan agar bulir-bulir padi itu bisa rontok dan dikumpuli. Setelah dikumpuli bulir-bulir padi yang rontok tersebut, mereka akan dibawa dan dituang kedalam sebuah lesung untuk sekali lagi, dipukuli oleh alu-alu. Bulir-bulir padi ini akan lepas dari kulitnya dan akan berubah menjadi butir-butir beras. Setelah itu, semua itu akan dikumpulkan, dikarungi dan dijual sebagai beras siap masak.
Nah, sekarang mari kita bayangkan jika beras itu adalah jati diri kita masing-masing. Dimulai dari awal pertumbuhan... pada saatnya akan 'menguning'-matang dengan seiiringnya waktu. Pematangan ini pun tergantung dari kondisi tanah, yang bisa kita artikan kondisi lingkungan di mana kita tumbuh. Namun, ini pun juga bisa menjadi pelajaran, jika memang bibit padi itu sebuah bibit unggul, maka ia pun akan tumbuh dengan baik.
Setelah 'matang' maka kepribadian beras itu dicoba. Dibanting dari batang utamanya,
mungkin ini bisa kita artikan ketika kita, sebagai remaja atau sebagai seorang individu, 'dilepas' untuk merantau di dunia nyata. Setelah kita semua 'lepas' dari batang utama kita, yaitu orang tua kita, maka kita dihentak, di'alu' oleh kenyataan dunia. Setelah bulir-bulir padi itu lepas dari sekamnya, bisa kita artikan sebagai semua topeng dan apapun yang menutupi jati diri kita yang sebenarnya 'terpecahkan' atau 'terkupas' dan menunjukkan apa buah, apa inti sebenarnya.
tetapi hati-hati, karena terkadang sekam itu terlihat gemuk dan padat,
namun bisa saja kosong, atau berisi beras yang busuk.

Beras itu pun siap masak dan siap untuk disantap.. Coba pikirkan bahwa semua ujian dan semua cobaan itu akan berhasil pada akhirnya akan menjadi sebuah pencapaian yang berarti bagi kita. Sebuah hasil akhir yang sangat memuaskan, yang sangat nikmat yang adalah diri kita sendiri.
Satu hal lagi yang kita semua bisa petik dari nasi adalah, nasi adalah nasi.
Dari mana pun, nasi Jepang, Nasi Indonesia, Setra Ramos, Rojolele, Pandan Wangi,
apapun, jika dimasak akan menjadi nasi. Nasi goreng, nasi kuning, nasi kucing, apapun bumbunya, apapun warnanya, apapun rasanya bahan dasarnya adalah nasi.
Begitu pula kita manusia. Bagaimanapun kita menghias diri, menutup diri, menolak diri, membuat diri kita 'pedas', 'asin', 'asem', 'manis' (ramai rasanya), kuning, putih, coklat, merah kita adalah diri kita sendiri. Kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa kita diciptakan sebagai kita sendiri.

Janganlah membuang waktu dengan mencoba menjadi makanan lain jika
kamu memang diciptakan sebagai beras.
Jadi intinya, kita adalah diri kita sendiri. Di manapun kita berada, siapapun kita ini, peganglah teguh jati diri kita karena itu adalah kekuatan kita.

Jadilah sebuah bibit unggul, yang akan membuat sepiring nasi yang nikmat disantap di piring kehidupan ini.


Raka Siga Panji Pradsmadji

Wednesday, July 14, 2010

Petunjuk Hidup Sejahtera Dari Sudut Pandang Tukang Ojek

Salam,

Ojek, sebuah media transportasi yang amat khas ditemukan di Indonesia.

Mereka berada di manapun: di setiap ujung jalan, di tepi perempatan, di jalan masuk kompleks perumahan anda, di dekat mall, di pojok dekat tempat ‘nongkrong’ terdekat, di parkiran restoran favorit, dan tentunya selalu dekat rumah.

Mereka selalu setia dan sedia kapanpun: Baru pulang ngapelin pacar jam setengah 10 malam, pagi-pagi terlambat bangun, lihat jam di rumah sudah menunjukkan pukul 6.15, dan sekolah masuk jam 6.30! Tenang, Ojek akan membawa anda tepat waktu (dengan keselamatan minim, tapi yang penting sampai dong). Sudah sampai kampus, ketinggalan laptop, padahal hari ini presentasi yang sangat penting! Tinggal telpon tukang ojek langganan anda, maka laptop anda pun akan sampai dalam waktu kurang dari satu jam (dengan keselamatan minim dari si tukang ojek, tapi yang penting sampai dong)

Ojek tentunya digunakan oleh siapapun: Anak mobil yang baru kecelakaan di jalan, mobilnya ringsek, pasti cari ojek. Guru sekolah yang kesiangan gara-gara waktu malam nonton bola sama anak-anak, pasti cari ojek. Pegawai swasta maupun negeri, ingin cepat sampai di kantor, pasti cari ojek. Seorang pejabat, yang terlambat meeting gara-gara kesiangan ketiduran di kantor, sedangkan meeting di gedung lain, pasti cari ojek.

Nah, karena Ojek ini memiliki dampak yang cukup signifikan dalam hidup kita sebagai orang Indonesia, dan saya sebagai salah satu pemakai layanan ojek setia (langganan sama tiga tukang ojek berbeda!), saya tidak pernah meragukan bahwa layanan ojek saya selalu aktual, tajam, dan terpercaya. Setelah beberapa bulan ini aktif menggunakan ojek, dan banyak menghabiskan waktu sama bapak-bapak tukang ojek, akhirnya timbulah sebuah inspirasi untuk menuliskan note kali ini. Sebuah Petunjuk Hidup Sejahtera Dari Sudut Pandang Tukang Ojek .
Kita semua tahu, para tukang ojek itu adalah orang-orang yang sangat bersahaja, sederhana, dan masing-masing memiliki cerita yang patut didengar. Namun dari pribadi mereka yang sangat bersahaja itu, mereka sudah merasakan asam-garamnya dunia ini, dan setiap cerita mereka menunjukkan betapa mereka bisa menghadapi kehidupan dengan keuletan, kejujuran, dan kebijakan. Dari banyak cerita yang sudah saya dengar, cerna, dan rangkumkan, inilah note yang kita bisa mengerti dan tertawa bersama akan kehidupan sehari-hari.

Pandangan Tukang Ojek Tentang Hidup:
“Asal keluarga seneng, motor masih bisa dicicil, masih bisa makan, ya seneng...”
(Keluarga itu nomor satu)

“Sebelum narik Ojek, berdoa, waktu nunggu penumpang, berdoa, waktu lagi narik di jalan, berdoa, nanti waktu udah dapet duit, berdoa lagi.”
(Tidak boleh lupa berdoa dan bersyukur sama Tuhan)

”Kalau udah dapet setoran, ada baiknya kita bagi-bagi rejeki sama sesama penarik ojek... Walaupun cuma bisa beliin mereka rokok atau kopi, yang penting mereka juga seneng...”
(Selalu ingat sama teman seperjuangan)

”Selalu inget kalau kita tuh bawa penumpang, jadi mau ngebut juga harus hati-hati”
(Dalam hidup, pasti selalu ada tanggung jawab)


Tentang Pekerjaan dan profesionalisme

”Hujan ya kehujanan, panas ya kepanasan, narik ojek ya tetep narik.”
(Tidak ada alasan bolos kerja)

”Yang mesen ojek (penumpang) tuh segala macem orang, dari yang astaghfirullah sampai alhamdulillah, tapi mereka juga orang yang ngasih rejeki sama kita... jadi harus tetep aja kita baik sama sopan sama mereka.”
(Customer Service)

”Ga boleh lupa kalau preman pasar terdekat itu juga manusia... tapi ada baiknya kita temenin dia juga... kasih rokok lebih, traktir kopi... jamin waktu ngetem ga perlu bayar timer sama dia...hehehe”
(Baik-baik sama bos)

”Orang yang langganan sama kita ga bisa selalu nomer satu, kalau lagi ada yang perlu banget saat itu, rejeki ga boleh ditolak dong...”
(First come, first serve)


Tentang Cinta

”Yang penting, Bini’ seneng!”
(Ini cukup jelas bagi yang sudah menikah)

”Yaa... yang namanya penumpang kan ga cuman satu...”
(Masih banyak ikan di laut)

”Kalau lagi nganter bini’ kemana-mana, bilang sama dia supaya pegangan yang kenceng hahaha.”
(Kemesraan adalah bumbu yang manjur untuk hubungan yang harmonis)

”Bini’ tuh paling seneng kalau kita pulang senyum, selamat, dan seneng.”
(Istri, Kekasih, Pacar, yang sayang sama kita, pasti senang kalau lihat kita senang.)

”Yang namanya pelanggan pasti, pasti nelpon kita kalau emang butuh. Pelanggan pasti ga kemana.”
(Jodoh tidak akan kemana)


Tentang Keluarga

”Yang penting anak sekolahnya bagus aja dah, biar gedenya sukses.”(Setiap orangtua pasti berharap akan kesukseskan anaknya)

”Anak laki harus ada pegangan, makannya ane suruh belajar silat.”
(Setiap anak harus memiliki kemampuan untuk menghadapi hidup)

”Anak gadis ga boleh pulang malem-malem, soalnya harus bantu emaknya di rumah.”
(Main boleh, tapi membantu keluarga itu sebuah kewajiban)

”Yang penting bayar sekolah ga telat, keluarga masih bisa makan nasi, saya juga badan sehat.”
(Seorang kepala keluarga akan melakukan apapun demi menafkahi keluarganya)


Tentang Pertemanan
”Kalau lagi narik, kita harus pasang tampang paling ramah, keliatan paling rapih, dan ngomong juga harus sopan biar dapet penumpang. Kalau kita ga usaha, ya ga dapet rejeki dong.”
(Life is a competition, when it comes to the gold, it’s about who gets it first)

“Narik boleh kenceng, tapi ngopi bareng, bagi-bagi rokok, gaplek bareng, sama nonton bola kudu ga boleh lupa sama temen-temen”
(Sesibuk apapun kita, menghabiskan waktu dengan teman-teman itu penting)

”Kalau anak tetangga orang tuanya lagi sibuk, kita bisa bantu dia anterin aja ke sekolahan.”
(Orang sedang susah seyogyanya kita bantu jika kita bisa)

”Kadang tuh temen kita suka minta tolong, tapi kalau kita lagi narik, ya kerja dulu dong... duitnya kan juga buat keluarga”
(Janganlah memaksakan kehendak, lihatlah situasi dan kondisi)


Tentang Politik

”Yang kaya makin kaya, yang miskin makin melarat. Kita, ya gini-gini aja dah.”
(Bagi kita, ini cukup jelas sedang membahas apa.)
”Tiap kali kita liat di tipi (baca: TV) tuh, kok kantor DPR MPR kosong mulu ya?”

”Ya orang ngomong korupsi mesti diberantas, tapi pungli masih ada, preman masih minta, mau jadi apa dong kita?”
”Katanya kerja bikin rakyat sejahtera, kok tidur?”
(Komentar seorang tukang ojek ketika melihat seorang anggota DPR tidur di meja kantornya)

”Orang gede tuh kadang bikin susah, ga mikirin orang kecilnya, mobil pake dikawal pake sirene. Udah tau tinggal di Jakarta, nanti pake alasan telat di kantor gara-gara macet. Mana dia bisa ngerti perasaan rakyat, orang ke kantor pake mobil mewah, dikawal, pake sirene supaya semua minggir... alah alah”


Memang benar adanya kalau ilmu dapat kita cari di mana saja, dari siapa saja, asalkan kita pandai-pandai melihat dan menggali.

Kita memang bukan manusia sempurna, banyak kalanya kita mengeluh akan keadaan kita sekarang ini. Maka dari itu, marilah kita semua belajar bersama kebijakan para tukang ojek dalam menghadapi hidup ini dengan bersahaja, sederhana, dan bijak.


Local Wisdom

Salam,

Kita selalu merujuk ke 'orang-orang bijak', filsuf-filsuf yang sudah lama tiada, jendral-jendral perang, penemu-penemu sukses, dan pemimpin-pemimpin bangsa. Namun amat disayang kita lupa kalau kita orang Indonesia ini adalah orang-orang yang kaya ilmu, dan banyak sekali kebijakan dalam hidup yang bisa kita petik dari kehidupan sehari-hari, dan orang-orang disekitar kita.

Karena saya seorang pesilat tradisional (panjang banget penjelasannya antara silat 'biasa' dan silat 'tradisional' nanti kapan-kapan kalau kopi darat para kontributor P & C, baru kita cerita ya Cyin..), maka banyak kutipan-kutipan yang saya akan bagi kepada para pembaca diambil dari catatan pribadi saya sewaktu latihan.

Kolom "Local Wisdom" ini saya harapkan bisa menjadi sebuah kolom dimana teman-teman bisa mendapat inspirasi, ide, dan kesadaran masing-masing akan betapa kayanya bangsa kita ini, dan betapa hebat orang-orang disekitar kita juga :)

Saya akan berusaha untuk memberi sedikit cerita juga untuk setiap kutipan, supaya para pembaca bisa mengerti asal-muasal kutipan itu, dan saya harap juga para pembaca supaya bisa dapat perasaan yang saya coba untuk utarakan dalam setiap kutipan.

So my friends, today's local wisdom quote is:

"Seorang jawara tidak akan pernah meremehkan siapapun atau apapun, tetapi seorang jawara juga ingat bahwa ia tidak akan pernah meremehkan dirinya sendiri."
-Bang Sani, Guru Besar dan Pewaris Silat Gerak Saka


Muhammad Sani, atau lebih dikenal sebagai "Bang Sani" ini adalah seorang Jawara Betawi tulen, dia sudah menghadapi banyak sekali jagoan-jagoan lainnya, dan tidak pernah sekalipun kalah. Di usianya yang sudah hampir memasuki 60 tahun, Bang Sani ini tetap menjaga pribadi khasnya sebagai Jawara Betawi.

Uniknya, para tetangga Bang Sani tidak ada satupun yang tahu kalau beliau ini guru silat juga. Selama saya berlatih dengan beliau, beliau berhasil menimbulkan rasa percaya diri yang unik dalam diri saya, dan tentunya saya selalu diingatkan ketika latihan, bahwa saya tidak pernah boleh menjadi pongah dan jumawa akan diri saya sendiri, karena kita semua pasti akan bertemu dengan orang yang 'lebih' (kalau dalam Boso Jowo 'Linuwih').

Tetapi benar kata beliau, jika kita meremehkan diri kita sendiri, maka kita tidak akan memiliki dorongan dan motivasi untuk maju. Bener kan? ;)


Raka "Buaya" Siga Panji Pradsmadji