Saturday, March 26, 2011
Choices
Anjani bukan tipe perempuan yang manja dan romantis, ia perempuan yang bawel dan senang membuat lingkungannya tertawa. Sementara, Daffa adalah laki-laki yang pendiam, penurut, dan romantis.
3 Agustus 2010, 19.25
"Jan, aku kangen Paris."
"Duh, Daff.. Siapa yang nggak kangen Paris sih!"
"Maksudku, waktu yang kita habiskan berdua di Paris, di luar rombongan."
"Ooh.. Iya aku kangen kok, kangen."
"Hmmm, kamu masih ingat nggak, yang aku nembak kamu buat ngajak balikan?"
"Masih Daff, aku simpan kok semua memori dan barang-barangnya.."
"Ma chère, don't leave me...."
10 Agustus 2010, 11.40
Anjani masih ingat betul percakapan seminggu yang lalu, di mobil Daffa, sepulang Anjani dari sekolah. Sekarang Anjani duduk di meja kantin, menceritakan semua yang telah terjadi kepada sahabat-sahabatnya, Kishi dan Sjanna.
"JAN!!!! Lo serius?" Kishi tidak sengaja menggebrak meja dan menatap mata Anjani lekat-lekat. Anjani menunduk ke bawah, matanya tidak secerah biasanya.
"Iya, Kish... Gue sendiri masih nggak percaya! Gue jenuh, dia jenuh, datang deh si Melia sialan."
"Ah, I'm sorry to hear that, Jani. You are going to be okay without him." Sahut Sjanna si perempuan berjilbab yang tidak lancar berbahasa Indonesia.
"I thought you and Daffa were the best couple I've ever seen, Jan. Lo yang putus tapi kenapa gue yang speechless dan shocked gini ya? Melia ke laut aja lah! Hih!"
"Ya ampun Kishi, udah tenang aja. Kita senang-senang saja ya? Please, bantuin gue lupain dia. Gue pusing banget sekarang."
Sebulan telah berlalu, Anjani sudah jarang membicarakan Daffa. Biasanya weekend Anjani pergi nonton bersama Daffa, tetapi sekarang ia lebih sering jalan-jalan atau menghabiskan waktu bersama Kishi dan Sjanna.
14 September 2010, 16.38
Hari ini Anjani sengaja main ke rumah Kishi sehabis pulang sekolah, ritual mereka hampir setiap Kishi tidak ada kelas piano di sekolah musiknya.
"So, how's life going without Daffa, Jan? Gue yakin pasti lebih oke kan? Ya nggak?"
"Nggak tau deh Kish, tapi intinya I'm okay kok. Sebenarnya gue mau cerita. Ada temannya Daffa, namanya Ingga."
"Wait, let me guess. Ingga pasti tadinya punya pacar, tapi baru saja putus?"
"Haha smart! Iya, dia baru putus. Dulu, dia selalu jailin gue kalo lagi sama Daffa, tapi nggak pernah bbm-an. Sekarang dia jadi sering bbm-in gue, nanyain kabar, gitu-gitu deh, Kish!"
"Are you stupid or what? HE LIKES YOU, ANJANI!!!!"
"Oh, no! Come on. Nggak mungkin, Kish. Nggak. Mungkin."
"Impossible is nothing. Wake up, Jan!"
Anjani bingung dengan kehadiran Ingga yang begitu mendadak. Ingga sama seperti Daffa, selalu memperhatikan Jani. Tetapi Daffa adalah cowok yang serius, kalau Ingga sama seperti Jani, senang bercanda.
Jani memang merasa enak mengobrol dengan Ingga, tapi justru ia butuh orang lain yang berbeda dari dirinya dan dapat melengkapi hidupnya, seperti Daffa.
Bukan hanya Jani yang bingung, Kishi pun juga sedang bingung. Teman mereka, Ghani, sering sekali menghubungi Kishi untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Jani. Tenang, Kishi tidak suka dengan Ghani dan tidak cemburu. Ia hanya kesal karena harus menghadapi semua pertanyaan Ghani yang aneh-aneh, gayanya sudah seperti detektif atau spy seperti di film-film.
28 September 2010, 07.56
“Jan, gue bingung. Nih, teman sekelas kita, si Ghani, nanyain lo mulu. Gue pusing tau nggak! Ditanyain macam-macam.”
“Kish, saran gue, lo bilang ke dia deh, kalo gue nggak akan bisa sama dia. Gue menganggap dia sebagai teman saja, nggak lebih. Ngomong yang tegas, Kish. Supaya dia ngerti. Gue juga kasihan kali sama lo ditanya-tanyain mulu.”
30 September 2010, 12.23
Kishi tidak tahan ingin merebut Blackberry milik Anjani, untuk mengetahui hal apa yang sedang membuat sahabatnya itu senyam-senyum sendiri, padahal jelas-jelas yang lain sedang ngobrol serius mengenai tugas sekolah yang tiada hentinya.
“Eeeeeh Kish! Direbut gitu aja sih. Ya sudahlah...” Anjani merelakan BB-nya direbut Kishi dan dibawanya pergi entah kemana.
“If I were you, aku sudah panik teriak-teriak karena BB-ku diambil tiba-tiba, Jan...” Sjanna menyahut. Ia memang salah satu anak yang paling susah untuk meminjamkan BB-nya.
“Yeah Sjan, I know you so well kalau kata SM*SH! Hahahaha”
Ya, SM*SH adalah Boyband yang berasal dari.. Ehem, Indonesia. Kabarnya sih agak meniru Boyband Korea. Lagu mereka dan video clip nya sedang naik daun di kalangan anak muda. Ya, unik, tapi bukan jenis musik yang disukai oleh Anjani dan teman-temannya.
30 September 2010, 17.01
“Cieeee BBM-an terus nih sama Ingga. Udah lah, fix! Dia suka sama lo. Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, Jan!” Kishi merebahkan tubuhnya di kasurnya setelah menjalani seharian yang penat, bertengkar dengan guru olah raganya di sekolah.
Anjani memutar-mutar kursi komputer Kishi dan langsung membanting tubuhnya di atas kursi tersebut. “Nggak mungkin Kishi. Ya Tuhan.. Udah gue bilang berkali-kali.... Gue sama Ingga tuh cuma teman. Teman. Teman, Kish..”
“Kalau ada orang yang nanya, Ingga itu siapa lo, lo nggak mungkin jawab teman kan? Hayo?”
“Yaaa.. Gue jawab aja teman BBM-an.”
Bantal langsung dilayangkan Kishi persis ke depan wajah Sjanna.
2 Oktober 2010, 18.00
Kishi masih mengeringkan rambutnya yang baru saja selesai dikeramas, dengan hair-dryer, sambil menunggu Anjani. Rencananya mereka akan pergi pada malam minggu ini, bersama teman-teman yang lain. Film Step Up 3D sudah keluar di seluruh XXI.
Baru saja ia mau menelepon Jani, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ia melihat Jani ngos-ngosan masuk ke kamarnya, sambil mengenakan kaos putih dan jeans abu-abu. Sangat Anjani, simple dan cuek.
“Assalamualaikum dulu kaleeee.. Ketok kek apa kek....”
“Sorry sorry.. assala.. mu... ala.. ikum. Pinjem komputer, Kish!!! Gue sign out Facebooknya ya!!!”
“Ya, terserah lo. Mau ngapain sih?”
Akhirnya Kishi menghampiri Jani yang sibuk melihat foto seorang cowok di Facebooknya. Ia seperti sedang meng-stalk seorang cowok. Sangat bukan Anjani.
2 Oktober 2010, 14.30
“Hah? Lo lagi suka sama cowok Ven?” Jani menelepon Vena, sahabatnya semasa SMP, sampai sekarang, saat Vena confess di BBM bahwa dirinya sedang menyukai teman barunya di SMA.
“Iya Jan, dia tinggi banget dan pemain basket. You know my type.” Jani penasaran seperti apa bentuk cowok tersebut.
“Eh, Ven. Gue lagi buka Facebook nih. Nah, pas di homepage, gue liat ada cowok, besar, tinggi, pakai kaos biru, lagi main tarik tambang. Di album teman sekolah lo kok. Itu siapa... Keren banget...”
“Pakai kaos biru kan, Jan??!!!”
“Iya.. Jangan bilang...”
“Tenang! Bukan itu cowok yang gue maksud. Yang gue maksud itu, namanya Derry. Sementara yang di foto itu, namanya Redha. Dia anak baru di sekolah gue. Minggu depan lo harus ke sekolah gue, nanti gue kenalin, pasti!
2 Oktober 2010, 18.05
“Nah iya Kish, jadi ceritanya begitu. Keren kan cowoknya? Jangan bilang.....”
“He? Biasa aja ah. Rambutnya jabrik-jabrik nggak jelas gitu, Jan. Tapi gue tahu dia siapa.”
“LO KENAL?!”
“Nggak, tapi tahu teman-temannya. Dulu dia sekolah di Sekolah Pondok Indah, setahu gue jago banget main gitarnya. Kakaknya dia itu penyanyi terkenal. Tahu kan, si Rhoma!”
“Hah gila.... Kok lo tahu aja sih. Kish, tapi dia keren banget..”
“Ya ya ya ya terserah.. Yuk cabut sekarang! Ntar nggak dapet tiket nonton lagi..”
6 Oktober 2010, 17.25
“Gila, sudah satu jam gue nunggu di canteen, akhirnya lo keluar kelas juga, Ven.” Anjani sudah pasang raut wajah bete dengan susu strawberry di depannya.
“Sorry, tadi gue mesti discuss project dulu sama guru English gue. Lama banget ya. Sorry.”
“Ya sudahlah, yuk jadi ke McD nggak?”
“Jadi jadi. Eh sebentar, gue kan janji mau kenalin lo ke Redha. Tapi maaf banget, dia sudah pulang tadi. Kayaknya gara-gara gue telat keluarnya nih jadi nggak sempat kenalin ke lo.”
“Yah.. Oh iya. Ya sudahlah kapan-kapan masih bisa kok, Ven.”
“Pinjam BB lo deh, Jan.”
Vena memencet tombol-tombol yang berada di BB Jani dengan cepat dan lincah. Jani heran apa yang sedang dilakukan oleh Vena dengan wajah yang begitu berseri-seri.
“Ngapain sih, Ven?”
“Sudahlah, nggak perlu tahu. Yuk, jalan.”
6 Oktober 2010, 20.28
Ternyata, Vena nge-add PIN BBM-nya Redha melalui BB Jani. Sengaja, agar mereka bisa mengobrol. Dan terbukti, setelah Redha mengatakan satu kata “Halo” sebagai permulaan, mereka sering mengobrol melalui teknologi yang super canggih itu.
Jani juga sering sekali dikirimi voice-note yang berisi permainan gitar dan suara indah Redha. Jani mengakui bahwa Redha adalah musisi yang sangat berbakat, seperti kakaknya Redha yang sudah menjadi penyanyi terkenal, Rhoma.
18 November 2010, 14.18
“Kish, kakak kelas gue dulu di Sekolah Nusantara, si Bonny, masa tiba-tiba jadi suka BBM gue, ngajak jalan-jalan segala macam, nggak jelas. Gue jadi bingung.” Anjani menghampiri Kishi yang sedang sibuk mencari notebook Biologynya di dalam loker.
“Hah? Ya, tipe-tipe aneh tuh. Kacangin aja Jan, seram ah. Masa tiba-tiba gitu.”
“Tapi dia baik banget...”
“Jangan tertipu sama baiknya deh. Lo cerita ke Ingga tentang itu?”
“Nggak Kish, gue takut. Tapi keanya sih, Ingga tau. Bonny kan teman seangkatannya Ingga. Gue juga nggak ngertilah, nggak penting..”
26 Desember 2010, 13.10
“Gimana sama si Bonny?”
“Udah kok, gue menjauh aja. Malas, Kish. Tapi masalahnya, gue jadi deket sama Moreno.”
“ADUH SIAPA LAGI ITU JAN? Kok banyak amat ya, hidup lo ribet juga.”
“Dia sahabatnya Ingga. Awalnya dekat gara-gara BB-nya Ingga ketinggalan di mobil Moreno, terus jadi suka BBM-an. Dia baik banget Kish..”
“Iya, lo bisa nyebut semua orang baik, tapi ga semua orang baik di dalem hatinya juga. Lo harus bisa mengambil keputusan lo sendiri, Jan. Gue mau bantu, tapi gue nggak bisa bantu sejauh masalah perasaan. Karena, lo yang merasakan. Lo lebih ingin dekat dengan yang mana, atau gimana.. Semua keputusan ada di lo, Jan.”
Anjani langsung berpikir setelah mendengar pernyataan dari Kishi yang sangat tidak biasanya, menusuk.
28 Januari 2010, 22.10
“Ya Tuhan gue baru mau tidur. Ini siapa lagi BBM jam-jam gue udah nyaris pingsan.”
Anjani: Kishy, guess what. Gue lg nemenin Moreno makan malem. Gue gatau mesti gimana. Tadi tiba-tiba dia jemput kerumah, terus gue gaenak, akhirnya gue temenin aja makan malem bentar di luar. Gue takut Ingga tau.”
“Lo sayang sama Ingga, Jan. Gue yakin.” Hanya itu yang terbesit dalam benak Kishi.
31 Januari 2010, 08.00
“Ingga tau.” Anjani tertunduk lemas di sofa sekolah.
“Tau.... Moreno?”
“Iya, gue BBM-an sama Moreno pas dia lagi jalan sama Ingga. Moreno padahal janji nggak cerita ke Ingga, tapi ternyata dia muna. Dia cerita semuanya ke Ingga.”
“Terus seka....”
“Iya, Ingga marah sama gue, Kish. Dia marah banget. Dia merasa dibohongin.”
“Lah? Dia marah kenapa? Eh.. Gue tau.. Keanya..”
“Iya, jadi..”
“GUE DARI TADI NGOMONG DIPOTONG MULU JAN....”
“Tapi lo pasti bakal kaget!!!! Kan gue tanya ke dia, kenapa dia bertindak seperti marah sama gue. Terus tiba-tiba dia bilang satu kata dengan 5 huruf ke gue. Ayo, lo pasti tau, tebak!!!”
“Love? Itu 4. Sayang? Itu 6. Suka? Itu 4 juga...” Kishi tidak dapat ilham sama sekali untuk menebak.
“Ya ampun, mendekati. Itu gampang banget Kish..”
“CINTA?!?!”
Anjani hanya mengangguk dengan pipi yang sudah merona merah.
Friday, March 25, 2011
Pengembara Keliling Dunia

Saturday, February 5, 2011
Memeluk Bintang
“Mas, bangun mas. Bibi lagi ninggalin sup di dapur. ini ada telepon.”
Asa membuka sebelah matanya. “Siapa Bik?” tanya Asa sambil menguap.
“Non Kara, mas.” Wanita setengah baya itu menyerahkan wireless phone ke tangan Asa dan terburu-buru berlari keluar dari kamar majikan mudanya itu.
“Ha—“
“Asaaa..!! Jangan tidur terus! Kamu kenapa sih hobi banget tidur? Lama banget lagi dibanguninnya, pulsa aku keburu abis nih.” Kara setengah berteriak.
Asa menjauhkan telepon dari telinganya. Dia bahkan belum sempat bilang ‘halo’.
“Salah sambung.” kata Asa asal.
“Nggak mungkin. Bangun Sa, bangun. Kamu kalo tidur kayak mati deh, jadi serem.”
“Apa sih, Ra? Aku ngantuk nih.”
“Sa, kamu ke rumah aku dong.”
“Ngapain?” Asa nyaris selalu bad mood kalau baru bangun tidur, apalagi dibangunkan paksa oleh Kara.
“Aku mau minta tolong Sa. Please, please.” Nada memohon terdengar jelas dalam suara riang Kara.
Asa berpikir sejenak. “Yaudah, bikinin aku milkshake ya tapi?”
“Beres!” Kara tertawa di ujung telepon.
KLIK. Telepon ditutup. Asa merentangkan kedua tangan dan meregangkan badannya.
“Cita-cita aku jadi astronot.” Kara duduk di sebelah Asa dan memasang wajah serius.
Asa menoleh menatapnya. “Jadi astronot? Kenapa?”
Kara tersenyum. “Soalnya—“
Asa tertegun, masih dengan pose kedua tangannya terentang ke atas. Loh, kok tiba-tiba dia teringat salah satu percakapan pertamanya dengan Kara. Percakapan itu rasa-rasanya terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, sewaktu mereka baru masuk SMP, kalau tidak salah. Entahlah Asa sudah lupa kapan persisnya. Dia bahkan tidak ingat kelanjutan percakapan itu, tapi rasanya Asa ingin bisa mengingatnya. Rasanya itu sesuatu yang penting. Sudahlah, pikir Asa. Toh dia akan segera bertemu dengan cewek itu, konfirmasi memori Asa bisa dilakukannya kapan saja. Dengan menghitung satu, dua, tiga dalam hati Asa melompat bangun dari tempat tidurnya, menyambar jaket hitamnya, tidak peduli dengan rambutnya yang acak-acakan, cowok itu menuruni anak tangga di depan kamarnya dan membuka pintu depan.
“Loh, mau kemana mas?” kepala Bik Suki menyembul dari dapur.
“Ke rumah Kara bik.”
“Nggak mandi dulu, mas?” tanya Bik Suki.
“Nggak usahlah Bik, ke rumah Kara ini. Nanti supnya sisain buat saya ya.”
Bik Suki tertawa. “Beres mas, salam dari Bibik buat Non Kara.”
Asa mengangguk-angguk sambil membuka pintu pagar dan berjalan keluar. Rumah Kara ada di kompleks yang sama dengannya, hanya bebeda dua blok, jadi dia bisa dengan cepat sampai disana.
“Asa!” suara yang familiar memanggil Asa dari belakang. Cowok itu menoleh dan langsung tersenyum lebar. “Hei Dit! Kapan balik lo?”
“Baru kemaren.” Radit nyengir sambil melempar bola basket yang sedang dipegangnya pada Asa. Asa menangkapnya dan melangkah mendekati Radit. Raditya Touran ini teman baik Asa semasa SD-SMP. Temen basket, temen nongkrong, temen nyontek, temen dihukum, temen telat, temen segala temen pokoknya. Radit pindah ke Australia begitu mereka masuk SMA karena pekerjaan ayahnya mengharuskan mereka sekeluarga pindah ke sana.
“Basket?” Radit mengangguk ke arah lapangan basket di belakangnya.
“Next time, Dit. Gue ada panggilan nih.” canda Asa.
“Heh? Lo sekarang jadi cowok panggilan?”
Asa refleks melempar bola basket di tangannya ke arah Radit. “Sialan.”
“Mau kemana sih loe?” tanya Raditya, curious karena setahunya yang namanya Asa tidak pernah melewatkan ajakan main basket demi apapun. Bahkan demi ulangan dobel sejarah-fisika semasa SMP.
“Ke rumah Kara. Mau ikutan?”
“Moh. Ngapain gue jadi nyamuk gangguin orang pacaran?”
“Dia bukan—“
“Iye, bukan pacar loe. Sms gue kapan mau maen bareng yak, ajakin anak-anak. Minggu depan gue cabut lagi nih.” Radit berjalan mundur ke arah lapangan basket sekarang.
Asa mengangguk. “Okelah, see you around.”
“Ra, ada apa sih?” tanya Asa.
“Aku mau ke Seventy-two nanti malem Sa!” Kara nyaris melompat ketika mengucapkan hal itu. Kedengarannya dia sudah memendam ini sejak menelepon Asa tadi, tapi bertahan sampai cowok itu secara fisik ada di depan matanya.
Asa terdiam sebentar. “Seventy-two?” ulangnya. “Itu bukannya…”
“Iya, iya! Tempat clubbing baru itu loh..”
“Emangnya kamu…”
“Emang belom, makanya sekarang mau nyoba..”
“Bukannya kamu...”
“Aku emang pernah bilang nggak suka ke tempat kayak gitu, tapi itu kan mungkin karena aku juga belom pernah main ke tempat begituan Sa. Siapa tau asyik.” celoteh Kara.
Asa mengerutkan keningnya. Main? “Besok kan sekolah, Ra. Mau sama siapa kamu ke sana?” tanya Asa.
Semburat warna merah muncul di kedua pipi Kara yang berkulit terang dan Asa semakin tertegun dibuatnya. Apa-apaan nih.
“Pergi sama Adry.” kata Kara.
“Adry?”
“Iya Adry.”
“....Adry.” Asa seperti berucap pada dirinya sendiri, tidak yakin.
“Duh, Sa..!” Kara gemes. “Adry temen basket kamu itu loh! Udah seminggu ini aku SMS-an sama dia.” kata Kara sambil (lagi-lagi) tersenyum.
Heh? Padahal baru bulan lalu patah hati sama Noel. Dasar Kara. Patah satu tumbuh sejuta.
“Kok bisa?” tanya Asa bingung.
“Loh? Bukannya kamu yang ngasih nomer aku?”
“Nggak.” Asa menjawab cepat.
“Kata Adry kamu yang ngasih kok. Aku kira kamu yang nyuruh dia sms-in aku biar cepet lupa sama Noel.”
Asa memejamkan matanya, berusaha mengingat-ingat. Tapi cowok itu yakin betul bukan dirinya yang memberikan nomor Kara pada playboy cap kakap SMA Bangsa itu. Asa sensitif dengan issue memberikan nomor HP Kara pada orang lain, terutama karena sejak mereka menginjak semester ke dua bulan lalu, semakin banyak saja cowok yang menanyakan nomor HP sahabatnya itu dan berdasarkan pendapat Asa semuanya tidak bisa dipercaya. Asa sendiri kurang mengerti. Tiba-tiba saja dia jadi overprotective pada Kara. Tiba-tiba saja Kara seperti menarik semua orang.
“Eh, Sa. Daripada mikirin itu, liat nih, aku bagusan pake baju yang mana ya?” Kara mengangkat dua buah baju yang kedua-duanya sama-sama kelihatan menyebalkan di mata Asa.
“Ra, mendingan kamu jangan pergi deh.” Kata Asa.
Senyum Kara memudar perlahan. “Kenapa?”
“Perasaan aku nggak enak.”
Kara menggeplak kepala Asa. “Temennya mau pergi malah disumpahin.”kata Kara.
“Loh, aku nggak nyumpahin. Aku kan cuma bilang perasaan aku nggak enak, Ra.”
“Kenapa sih, kamu sama Kevin sama aja deh.” Kara menarik gelas milkshake Asa yang sudah kosong dan berjalan ke arah rumahnya. Asa mengikutinya dan Kara masih terus mengomel. “Kevin juga sama nggak senengnya kayak kamu waktu aku bilang mau ke seventy-two sama Adry.”
“Soalnya kakakmu itu juga ada feeling nggak enak sama kayak aku.” kata Asa.
Kara dan Asa sudah sampai di dapur sekarang dan cewek itu setengah melempar gelasnya ke bak cucian piring. “Sa, kenapa sih kok kayanya kamu bawel banget tahu aku mau jalan sama Adry?” Kara menyalakan air dan mulai mencuci gelas. “Lagian bukannya Adry itu temen kamu??” kening Kara berkerut. Gadis itu tidak bisa menahan nada suaranya agar tidak meninggi sekarang.
“Justru karena Adry itu temen aku, Ra.” Asa kalem. “Auranya nggak bagus.” kata Asa sambil mengoper mangkuk berisi sabun cuci piring ke tangan Kara.
Kara hampir saja menjatuhkan gelasnya. Setengahnya mau ketawa mendengar kalimat terakhir Asa, setengahnya lagi masih merasa kesal pada sobatnya itu. “Emang kamu cenayang, bisa baca aura?”
“Pokoknya kamu jangan terlalu cepet percaya lah Ra. Perasaan aku beneran nggak enak.” kata Asa. Asa memperhatikan Kara yang kini tengah mengeringkan gelasnya. Tiga tahun yang lalu, cewek ini nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Pecicilan, ribut, sukanya lari-larian di koridor atau lapangan sekolah, sama sekali nggak ada unsur feminin, menurut Asa. Tapi sekarang Kara tumbuh, dan Kara yang berdiri di sebelahnya sekarang sama sekali berbeda dengan Kara tiga tahun—
“Emangnya nggak aneh?” tanya Kara. “Nggak kayak anak kecil?”
Asa menggeleng. “Menurut aku sih nggak.”
Kara bingung. “Kenapa?”
Asa terdiam sejenak. Memori tentang percakapan itu lagi. Tapi sama seperti waktu dirinya baru terbangun tadi, rasanya ada potongan penting dari percakapan itu yang justru tidak diingatnya. Asa baru ingat akan menanyakan perihal percakapan mereka tiga tahun yang lalu itu pada Kara ketika cewek itu menyenggol Asa pelan. “Aku mesti siap-siap, Sa.” Untuk sesaat, mata mereka bertemu dan tidak ada yang mengatakan apa-apa. “Ra, kalo kamu segitu pengennya ngeliat seventy-seven..—“
“seventy-two.” koreksi Kara secara otomatis.
“Iya, apa lah namanya. Nanti aku temenin kamu ke sana deh Ra, bareng Kevin juga.”
“AKU NGGAK MAU KE SANA SAMA KAMU APALAGI KEVIN. Sa, kapan aku bisa punya cowok kalo kamu nempel terus ke aku!??” Jauh di hati Kara, gadis itu sadar dia salah. Sadar ucapan kerasnya melukai Asa. Tapi saat ini Kara terlalu keraskepala untuk mengakui semua itu dan dia tidak ingin minta maaf pada Asa.
Asa mundur setengah langkah saat mendengar teriakan Kara. Hatinya marah mendengar ucapan Kara tapi otaknya belum memproses itu semua dengan sempurna hingga Asa hanya bisa diam, speechless dengan hal itu. Tapi akhirnya, rasionalnya memenangkan pertarungan antara otak-hati itu. Maka di luar dugaan Kara, Asa menyentuh dagu sahabatnya itu dengan pelan.
“Maaf ya, Ra.” Asa tersenyum pahit, dan seribu jarum rasanya langsung menusuk tubuh Kara. “Maaf aku nggak sadar kalo jadi halangan buat kamu punya hubungan yang lebih dalem sama cowok lain.”
Mata Kara berkaca-kaca. Bukan masalah menang atau kalah, bukan masalah gengsi untuk minta maaf. Rasanya sakit melihat Asa tersenyum seperti itu, melihat Asa bicara tetap dengan nada yang biasanya ia gunakan untuk menenangkan Kara saat marah. Itu yang sedang Asa lakukan. Meredam emosinya.
“Aku pulang ya Ra. Thanks milkshake nya.”
“ASAA!!!” lima suara kompakan memanggilnya. Asa berjalan ke arah lapangan basket dan melihat teman-teman basketnya komplit ada di sana. Radit, Reno, Tommy, Irvan dan Hendra. Semuanya berada di sekolah yang berbeda sekarang. Melihat mereka semua berkumpul, Asa
nyengir lebar dan akhirnya berlari, bergabung bersama teman-temannya dan mulai bermain basket.
Stay safe, bestie.
“Gue kira lo di rumah Kara, Sa.” kata Radit setelah hampir satu jam mereka bermain.
“Iya, tapi cuma sebentar. Orangnya mau pergi.” Asa asyik mendribel bola basket.
“Loe masih sama Kara, Sa?” Reno melempar botol minum ke arah Radit.
“Masih apanya?” tanya Asa masih sambil mendribel bola basketnya.
“Masih pacaran, lah.” timpal Tommy.
“Gue nggak..—“
“Mana mau ngaku dia.” Irvan tertawa sambil merebut bola dari tangan Asa dengan satu gerakan cepat.
“Ouch!!” Asa mengibas-ngibaskan tangannya ketika Irvan merebut bola. Jari kelingkingnya sakit sekali. Rasanya seperti terserang kram tiba-tiba.
Anak-anak masih terus tertawa dan membuat jokes atas hubungan Asa-Kara yang menurut mereka aneh dan tidak wajar. Awalnya Asa masih menanggapi keempat temannya itu, tapi lama-lama dia sudah tidak terlalu bersusah payah untuk itu, karena sama saja, nanti mereka bakal ribut lagi ngecengin dirinya. Asa duduk bersama mereka dan bermain dua round basket lagi sebelum akhirnya, kelelahan, penuh keringat dan haus, kelimanya memutuskan untuk menyudahi game mereka hari itu dan pulang ke rumah masing-masing. Asa berjalan bersama Radit, karena rumah mereka satu arah. Di belokan pertama Radit menggeplak kepalanya, mengucapkan sampai jumpa dan berjalan lurus menuju rumahnya. Rumah Asa sendiri terletak persis sebelum belokan itu sehingga dalam satu menit cowok itu sudah membuka pintu pagarnya. Mobil ayahnya sudah terparkir dengan mulus di garasi dan Asa jadi heran sendiri, memangnya sudah jam berapa sih ini.
“Darimana, De?” Ayahnya bertanya begitu kepala Asa menyembul di pintu.
“Basket Pa. Radit lagi balik.” jawab Asa. Asa melirik jam dinding di ruang keluarga, sudah jam sembilan malam. Asa tersenyum sendiri. Ngapain aja sih dia sama bocah-bocah berandalan itu tadi sampai jam segini.
“Kamu kok malah senyum-senyum sendiri gitu ngeliat jam.” Ibu mucul sambil membawakan kopi untuk ayahnya. “Mandi, De. Bau keringet.” kata Ibu. Asa mengangguk setuju dan langsung masuk ke kamar mandi, sadar betul badannya full keringat dan debu. Pikiran Asa sempat melayang sesaat pada Kara, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan si bawel itu saat ini. Tapi Asa menepis jauh-jauh pikiran dan keinginan untuk menghubungi sahabatnya itu. Biarlah, toh Kara juga sedang bersenang-senang, pikir Asa.
Rumah Kara
Mobil sedan silver berhenti di depan rumah Kara, membunyikan klaksonnya sekali dan Kara langsung keluar. Di belakangnya Kevin dengan sebal dan setengah hati merelakan adiknya keluar, sambil ngedumel yang pura-pura tidak di dengar oleh Kara.
Adry membukakan pintu untuk Kara layaknya gentlemen sejati, melambai pada Kevin dan masuk ke mobil. Beberapa saat kemudian mereka sudah meluncur pergi.
“Dry, ini nggak kepagian kita berangkat jam segini?” tanya Kara.
“Nggak Ra, soalnya mesti jemput Michelle, Audry sama Mario dulu. Nggak apa-apa kan?” Adry memasang wajah bersalah, karena sebelumnya lupa memberitahu soal teman-temannya yang mau nebeng mobilnya ini.
“Nggak masalah.” kata Kara riang. “The more the merrier.”
Sesampainya di jalan tol, Adry memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga Kara secara refleks memegang safety belt nya, memastikan benda itu dengan aman terpasang melindungi tubuhnya. Adry nyengir, dan Kara heran, cengiran model Asa dan Adry tampak sangat jauh berbeda. Kara memejamkan matanya sekarang.
“Takut, Ra?” tanya Adry.
“Takut.” jawab Kara jujur. “Nggak bisa pelan aja jalannya, Dry?” tanya Kara.
Adry melambatkan lanju mobilnya dan Kara kini bisa membuka matanya. “Gue seneng bawa mobil kenceng-kenceng, Ra. Sorry ya kalo bikin lo takut.” kata Adry menggenggam pelan kepalan tangan Kara.
“Lo mau jadi pembalap, Dry?” tanya Kara, tangannya dingin dalam genggaman Adry. Lebih ke arah takut karena kecepatan mobil, bukan dag dig dug tangannya dipegang oleh seorang Adry.
Adry tertawa dengan keras, terlalu keras menurut Kara. “Nggak lah, Ra. Gue mau punya bisnis sendiri, pekerjaan yang nggak konyol dan beneran bikin uang.”
“Kenapa jadi pembalap konyol? Gue mau jadi astronot.”
Adry kini menoleh dari jalan dan menatapi gadis yang duduk dengan manis di sebelahnya. Cantik, pikir Adry. Bagus untuk dipamerin kemana-mana, tapi omongannya masih konyol, sekonyol sahabatnya di rumah.
“Dry, jangan liatin gue, liat jalan tuh, jalan.” Kara panik karena tanpa sadar Adry kini sudah menginjak pedal gas lebih dalam sambil menatapi dirinya, bukan menatapi jalan, seperti yang dilakukan orang normal kalau sedang melaju dengan jarum speedometer menunjuk angka 130.
Adry sekarang tertawa lebih keras, telinga Kara sampai sakit. Sekarang Kara resmi sangat tidak menyukai manusia satu ini. Heran, kenapa dia bisa bertahan selama satu minggu SMS-an sama orang ini?
“Astronot, Ra? Konyol banget! HAHAHAHHA..—“
“ADRYY!!” Kara berteriak. Lalu benturan keras. Bunyi yang lebih memekakkan telinga daripada tawa Adry. Lalu gelap.
Samar-samar, Kara mendengar banyak bunyi lainnya. Bunyi rem, bunyi banyak pintu dibuka, suara orang-orang. Kara tidak terlalu bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi kedengarannya gawat.
“Asa...” panggil Kara pelan, begitu pelan sampai Kara tidak yakin dia bisa mendengar suaranya sendiri.
Sebuah suara terdengar di telinganya. Suara yang menyebalkan.
“Astronot, Ra? Konyol banget! HAHAHAHHA..—“
Lalu, suara yang lain. Kara cukup yakin kalau yang ini adalah
suaranya sendiri.
“Cita-cita aku jadi astronot.” Kara duduk di sebelah Asa dan memasang wajah serius.
Asa menoleh menatapnya. “Jadi astronot? Kenapa?”
Kara tersenyum. “Soalnya kalau jadi astronot aku bisa meluk bintang, Sa.”
Asa tersenyum. “Pasti asyik.”
“Emangnya nggak aneh?” tanya Kara. “Nggak kayak anak kecil?”
Asa menggeleng. “Menurut aku sih nggak.”
Kara bingung. “Kenapa?”
“Iya, soalnya—“
Kara memejamkan matanya. Suara-suara di sekitarnya mulai tak terdengar. Soalnya apa, Sa?
‘Adry sialan.’ Asa sudah mengumpat seperti itu berulang-ulang kali, mulai dari keluar rumah, di perjalanan, sampai hingga akhirnya ia ada di rumah sakit sekarang. Dengan mudah Asa mengenali sosok Oom Khrisna dan Kevin di depan salah satu ruangan.
“Oom, Vin.” Asa menyapa mereka. Wajah keduanya tampak tenang saat ini.
“Jari kelingking kanannya patah, selain itu dia nggak apa-apa.” Kevin memberi pengumuman, getaran dalam suaranya meyakinkan Asa cowok itu sedang menahan marah. Asa kemudian memandangi jari kelingkingnya sendiri, teringat serangan kram yang tiba-tiba terasa saat main basket tadi. Nggak mungkin, pikir Asa. Memangnya mereka apa, anak kembar?
Oom Khrisna meletakkan tangannya di bahu Asa. “Asa, bisa titip Kara sebentar? Oom mau bicara sama orangtuanya Adry.” Asa memandangi Oom Khrisna. Guratan lelah tampak jelas di wajahnya yang terbingkai rambut yang mulai beruban dan kacamata frameless yang bertengger di wajahnya, sentuhan Kara yang membuat ayahnya tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya
“Iya, Sa. Gue juga mau ngomong.”
“Kevin.” Nada suara Oom Khrisna terdengar memperingatkan.
“Tenang Pa, Kevin nggak bakalan nonjok orang kok.” kata Kevin. “Paling nyentil aja..—“ Kevin berhenti saat menangkap pandangan ayahnya dan kemudian berjalan dalam diam mengikuti ayahnya ke arah lift di ujung koridor. Dalam situasi biasa, Asa akan menganggap ini hal yang lucu. Dalam situasi saat ini, sense of humor Asa terputus sepenuhnya. Begitu Oom Khrisna dan Kevin menghilang di balik lift, cowok itu langsung membuka pintu kamar Kara.
Kara tampaknya tertidur, ada beberapa luka di wajah dan tangannya. Namun lebih dari itu, seperti kata Kevin, sahabatnya itu tampak baik-baik saja. Asa menarik kursi sepelan mungkin dan duduk di sebelah Kara. Kalau dalam keadaan diam dan nggak bawel seperti ini, Kara betul-betul kelihatan seperti seorang putri.
“Papa?” Kara membuka mata perlahan, dan tersenyum saat justru wajah Asa yang ada di sana.
“Asa?” ralat Kara.
Asa tersenyum. “Halo bawel.”
Kara mencoba memperbaiki posisi tidurnya, tapi itu membuat seluruh badannya sakit, jadi gadis itu berhenti. “Maaf ya Asa.” kata Kara.
“Untuk?” tanya Asa.
“Nggak dengerin kamu.”
“Emang sejak kapan juga kamu dengerin aku?” Asa tersenyum ramah dan Kara lega melihatnya. Hal terakhir yang dibutuhkannya saat ini adalah diomelin Asa.
“Sa, aku tadi mikir.” Kara kini menatap mata Asa. “Aku masih pengen meluk bintang loh.”
Asa tertegun. Memeluk bintang. Itu potongan memori yang hilang dari percakapan tiga tahun lalu yang entah kenapa terus-terusan hinggap di benaknya sepanjang hari ini. Bagaimana hal itu bisa tiba-tiba diucapkan Kara sekarang, Asa tidak terlalu tahu. Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli juga soal itu.
“Pasti asyik.” kata Asa. Yang membuat Asa heran, dia mengucapkan kalimat sesederhana itu dengan rasa damai yang luar biasa mengisi hatinya.
Ganti Kara yang tertegun. “Emang nggak aneh? Nggak kayak anak kecil?”
Asa menggeleng. “Menurut aku sih nggak.”
Kara tersenyum amat lembut dan Asa hampir saja menunduk untuk mencium gadis itu saat melihat ekspresi lembut mewarnai wajah sahabatnya. “Kenapa?” tanya Kara.
Asa menarik nafas. “Iya, soalnya kalo kamu meluk bintang, aku pasti ada di sebelah kamu. Lagian, kamu kan butuh orang yang bisa bikinin alat supaya kamu bisa meluk bintang, Ra.”
“Itu beneran percakapan anak kecil yah?” tanya Kara, sekarang merasa luar biasa mengantuk.
“Nggak juga, Ra. Buktinya kita udah SMA dan masih ngomongin itu kok.” jawab Asa.
“Kalo....kamu....berubah pikiran...terus... nggak mau lagi.....” ucapan Kara terputus dan gadis itu memejamkan matanya.
Asa berdiri dan menarik selimut lebih rapat menutupi Kara. “Tenang, kita peluk bintangnya sama-sama.”
Kara sudah tidak terlalu mendengarkan. Suara Asa terlalu lembut, AC di kamarnya terlalu sejuk, selimutnya terlalu hangat dan wangi badan Asa yang ada di sebelahnya terlalu enak hingga usaha Kara untuk tetap membuka mata rasanya sia-sia saja. Kara bahkan sudah benar-benar terlelap saat Asa membisikkan ucapan selamat malam padanya. Hal terakhir yang diingat Kara sebelum tidur hanyalah ada Asa di sebelahnya, di luar sana mungkin Kevin sedang berusaha menonjok Adry dan ayahnya besok pagi akan berusaha menyelundupkan zuppa soup favoritnya, dan ya, besok pagi akan ada Asa di sini.
Lalu semuanya akan baik-baik saja.
Wednesday, December 22, 2010
Apa yang membuat kamu BESAR?
"Anak-anak, apa yang membuat kamu besar?"
Kemudian anak-anak tk tersebut langsung berteriak spontan setelah melihat banyak gambar-gambar hewan yang ada di tembok kelas.
"Gajah, bu!!"
"Kupu-kupu, bu!!"
"Zeblaaaa, bu!!" *maksudnya zebra.
"Panda, bu!!"
Dan banyak hewan-hewan yang disebutkan lainnya. Ga nyambung memang dengan jawaban yang ditanyakan si guru itu sendiri. Tapi karena anak-anak dengan kespontanan dan kepolosan nereka menjawab seperti itu. Suasana kelas menjadi gaduh. Tapi ibu guru melihat ada 1 anak perempuan yang berbeda, ia tidak spontan menjawab pertanyaan, tapi ia hanya diam daritadi dan hanya duduk. Lalu ibu guru meghampiri si anak, Jessica.
"Jessica, kenapa kamu diam?" Ibu guru menunduk sambil tersenyum melihat wajah Jessica.
"Apa yang membuat kamu besar, Jessica?" Ibu guru bertanya lagi.
"Ngg..yang membuat aku besar adalah ibu." Jessica berbisik pelan.
"Kenapa?" Ibu guru bertanya penasaran.
"Karena ibu selalu datang setiap malam ke kamarku dan bilang 'aku sayang kamu'. Aku sayang ibu. Ibu yang tiap hari suapin aku, ibu yang selalu ajak aku main, ibu yang selalu ajarin aku membaca dan menghitung, ibu yang selalu mandiin aku. Semuanya ibu!" Jessica menjelaskan panjang lebar dengan kepolosan sambil tersenyum.
Ibu guru tersenyum, "Iya Jessica, Ibu kamu BESAR dan itu membuat kamu bisa BESAR seperti ini."
Apakah kamu sudah memberikan 'kebesaran' kamu kepada orang lain?
Apakah kamu sudah memberikan kasih kepada orang lain?
Apakah kamu sudah mengucapkan 'aku sayang kamu' kepada orang yang kamu sayangi dengan tulus?
Sepucuk Surat untuk Ibu
Sunday, December 12, 2010
Email Somat ke Ngkong Sinterklas
Assalamualaikum Ngkong Sinterklas,
Salam Ngkong, apa kabarnye nih Ngkong? Moga-moga Ngkong kagak lupa sama anak Betawi kesayangan Ngkong, Somat. Sekarang Somat lagi di Singapura nih Ngkong, ngelanjutin sekolah aye disini. Alhamdullillah Nyak sama Babe masih bisa nyekolahin aye sama adek aye, apalagi sampe keluar negeri, Ngkong.
Si Ijul temen aye nyang Natalan kemarin ngobrol sama aye lewat komputer. Sekarang Ijul noh sekolah di Kanada. Canggih bener dah hari gini Ngkong, segala macem ade, segala macem bisa. Si Ijul katanya udah malu ngirim surat ke Ngkong Sinterklas, "Udah gede sekarang kita Mat, kagak perlu lagi nulis-nulis surat ke Sinterklas... Lu ape kagak malu?" Enggak kok Ngkong, aye ga malu, kalo-kalo aye udah kagak boleh lagi minta kado natal, aye mau jaga silahturahim aje sama Ngkong gitu. Kan anak soleh ya soleh aje kan Ngkong.
Aye sekarang tinggal ade ngontrak rumah sama temen-temen ane nyang baru. Orang kelingnya ada 3, sama orang dari Vietnam ade juga ntu. Ngkong tenang aje, aye anak Betawi yang inget sama pesen Nyak Babe aye, harus rukun, baik sama orang, rajin ngaji sama ga boleh lupa maen pukulan.
Jujur aje aye memang nulis mau minta kado natal sama Ngkong, Peci nyang dulu ngkong bawain udah buluk, emang namanye ntu barang udah bangkotan, kira-kira aye boleh minta peci baru Ngkong? Aye ga mau minta banyak-banyak sama Ngkong, soalnya malu juga inget sama umur aye. Hehe.
Tapi gini Ngkong, aye mau minta tolong sama Ngkong, tapi ntu kalo kagak ngerepotin Ngkong aje. Sejak aye belajar bisnis di sini, aye udah ngerti kalo segala barang kagak ade nyang gratis atau obralan, jadi ntar Ngkong pasti bakalan capek, ntar aye kasih suguhan disini pas mau nganter hadiah aye! Ngkong, ini bukan aye mau nyogok lho, aye cuman mau kasih Ngkong timbal balik aje, Ngkong entar nganterin hadiah-hadiah buat Nyak sama Babe aye nyang di Jakarte, ama temen-temen aye nyang lagi ngerantau nyari ilmu... Terus aye suguhin nasi goreng kambing nyang aye masak sendiri, sama bikinin susu jahe sama madu nyang anget, biar Ngkong ntar mau narik dokar terbangnya udah seger!
Ade si Ijul noh di Kanada, trus ade si Budi temen aye nyang natalan juga. Dia pindah ke Jogja tadinya tinggal deket rumah aye, ade Ncingnye nyang kerja di Keraton dulu, dipanggil lagi sekarang katanye ade rapat besar istana. Aye kagak ngarti dah. Terus ada si Minah nyang masih di Jakarte. Kesian dia kagak sekolah lagi aye denger terakhir kabarnya dari Budi, sekarang bantuin mpoknye jaga warung...
Terus ade juga si Nana nyang pindah ke Australi. Temen-temen aye pada jauh Ngkong, kangen aye mainan gobak sodor ame mereka, saban hari berangkat bebarengan ke sekolahan, ngeliat si Budi kalo lagi ngejar layangan... Demen banget tuh anak ngejublag terus nangis... Udah aye bilangin mangkannye jangan ngunyah mulu kerjaan.
Itu nyang dibungkus di meja makan aye ya Ngkong, nyang rada gede bungkusannye itu buat Nyak-Babe aye, terus nyang biru itu buat adek aye, aye beliin pakean buat die, biar makin cantik gitu.
Nyang bungkusnya merah itu buat Ijul, Ijo buat Budi, jingga buat Minah, ame nyang ungu buat Nana. Barangnya kecil-kecil Ngkong, buat Ijul aye beliin sarung tenun bagus biar die kagak lupa kalau die anak Betawi.
Buat Budi aye beliin kue-kue biskuit nyang 'low fat' ama keripik singkong nyang aye goreng sendiri, modal gula garem doang ama singkongnya ada kebon nganggur deket kontrakan aye. Tenang Ngkong! Aye kagak nyolong, ntu aye udah bilang 'assalamualaikum' tiga kali kagak ade nyang jawab, aye permisi masuk terus minta ijin ama penghuni situ sapa-sapa tau ada nyang nangkring kan.
Buat Minah aye beliin ada nih boneka kucing nyang tanganya bisa ngayun-ngayun maju mundur Ngkong, lucu bener dah ini kucing. Dulu si Minah soalnya punya kucing juga demen bener nyaut-nyautin gangsingan ane, ini bonekanya mirip kucingnya Minah. Orang Tionghoa sini demen banget majang boneka ginian depan rumah ame dagangan, apa kagak takut dicolong ye?
Untuk si Nana nyang di Australi aye beliin buku Ngkong, dia suka bener baca buku nopel. Ini aye beliin ini nopel lagi ngetop banget kagak tau kenape, ceritanye cinta segitige Ngkong. Ada ini cewek nyang naksir banget ama atu laki nyang kalo aye pikir mirip jenglot, ngisep darah. Tapi ini anak perempuan juga naksir ama atu lagi laki nyang kayaknya anjing jadi-jadian . Tapi ngetop banget disini Ngkong, jadi aye beliin buat Nana.
Aye cuman harap mereka suka same hadiah nyang aye, ini aye ga minta duit siapa-siapa buat beliin kado natal, aye sisih uang jajan aye jadi bisa beli kado. Inget-inget sama pesen Babe aye: "Mat, ntaran lu udah jadi orang gede, kerjanya gedongan, elu kagak boleh lupa ame temen-temenlu. Kudu inget silahturrahmi sama mereka, kali-kali lu ada rejeki lebih juga kagak boleh lupa dibagi-bagi." Jadi aye cuman ngejalanin amanat orangtua aye.
Ngkong, kontrakan aye kagak ade cerobong asepnya. Ntu kalau Ngkong mau parkir ntu dokar terbang diatap bisa sih, tapi kayaknye Ngkong parkir di lapangan bola belakang aje, hukum negara sini matre Ngkong, salah-salah Ngkong didenda ntar berabe.
Oh iye, Ngkong kalau mau nasi gorengnya pake telor, dibales ya Ngkong surat aye, biar aye siapin telornye mau digoreng ato didadar gitu. Maaf ye Ngkong kalo surat aye rada panjang, kan udah kagak pake kertas lagi soalnye.
Bujubuneng aye ampir aje lupa! Astaghfirullah, ntar takut ngkong nyasar, kontrakan aye aye pasang lampu petromak ya Ngkong! Aye cantolin di jendela aye aje.
Wassalam, anak Betawi kesayangan Ngkong
Somat.